ALT_IMG

Lomba Karya Jurnalistik Se BARLINGMASCAKEB

LPM BHASKARA Universitas Muhammadiyah Purwokerto mengadakan Lomba Karya jurnalistik Untuk Pelajar Se Barlingmascakeb dengan tema Buramnya Pendidikan Di Negriku.Download Formulir dan Ketentuan Lomba.

ALT_IMG

Adat Istiadat Perlu Berjalan Berdampingan Dengn Aqidah Islam

Awan mendung menyelimuti langit Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), rintik hujan mulai membasahi gedung-gedung mewah kampus biru. Pada saat yang bersamaan, tampak mahasiswa lalu lalang menuju lantai tiga di gedung PKM yang belum genap dua tahun dibangun itu.Selengkapnya..

Alt img

Pengelolaan Hotspot Belum Maksimal

Hotspot yang akhir-akhir ini menjadi popular, karena kemudahan dan keefektifannya membuat hotspot digemari para pecinta dunia maya. Universitas Muhammadiyah Purwekerto (UMP) merupakan salah satu yang menggunakan teknologi hotspot.Selengkapnya...

ALT_IMG

Buruknya Konsolidasi, Kesebelasan BEM Mundur

Belum genap satu periode kepengurusan, para pentolan Lembaga Tinggi sudah mulai meninggalkan kursi jabatannya. Terbukti dengan mundurnya 11 pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) periode 2012/2013 yang digadang-gadang sebagai ujung tombak penampung aspirasi mahasiswa. Selengkapnya...

ALT_IMG

Pemimpin Oh Pemimpin

Dengan air mata ini... Ku berharap kepadamu... Pemimpin... Selengkapnya...

Senin, 28 April 2014

Takut Diklaim, Mahasiswa Teknik Pasang Banner

3 komentar
Takut Diklaim, Mahasiswa Teknik Pasang Banner

Terpampang jelas banner penegasan mahasiswa Teknik untuk gedung barunya                                                       (bhas_doc)
Bhaskara – Mahasiswa Fakultas Teknik pasang badan, terkait pembangunan gedung baru yang diperuntukkan bagi mereka. Ini terlihat dari pemasangan banner bertuliskan “Ini Gedung Kami Yang Baru”, di depan bangunan yang pengerjaannya baru 35%, dari keseluruhan rencana pendirian. Menurut  Wakil Gubernur Teknik, Rya Dwi Aditiya mengatakan,  pemasangan banner tersebut, karena berjaga-jaga, agar gedung tersebut tidak difungsikan bagi fakultas lain.
Pemasangan banner tersebut, bukan tidak beralasan. Ini  mengingat perlakuan pihak Universitas, yang memindahkan Fakultas Teknik ke gedung lain. Mereka dulu beralasan, dipinjam sementara bagi Fakultas Kedokteran. Namun, kenyataannya jadi hak paten. Itu cukup membuat kami khawatir,” kata Rya, beberapa waktu lalu, kepada Bhaskara.
Di sisi lain, Rya menyayangkan Akreditas Fakultas Teknik, yang hingga saat ini masih C. Menurutnya, itu karena Fakultas Teknik belum memiliki gedung sendiri. “Gimana Akreditasi mau jadi baik, ruangan saja tidak punya.  Padahal, salah satu syarat akreditasi kan harus mempunyai fasilitas yang lengkap, salah satunya ya gedung,” ujar dia.
Menurut informasi yang dihimpun Bhaskara, konsep pembangunan Fakultas Teknik tersebut, berlantai lima, dengan fasilitas lift. Mahasiswa Teknik Informatika, Ady Purnomo, mengatakan pembangunan gedung baru tersebut, menjadi penyejuk hati mahasiswa Teknik.
“Saya sangat senang, gedung itu benar-benar untuk Fakultas Teknik. Walaupun saya belum tentu ikut memakainya, karena saya semester delapan. Tapi saya tetap peduli, untuk memperjuangkan gedung itu. Ini agar pemanfaatannya tetap diperuntukan bagi mahasiswa Teknik, kata Ady.
Terpisah, Wakil Rektor II, bidang administrasi, Drs. Joko Purwanto M,Pd menyatakan, gedung yang dibangun tersebut, memang untuk Fakultas Teknik. Akan tetapi, menurutnya fakultas yang lain pun, diperbolehkan memakainya.
“Gedung yang dalam tahap pembangunan itu, jelas milik UMP. Akan tetapi didominasi oleh Fakultas Teknik. Tapi, fakultas lain pun diperbolehkan memakainya, asalkan mahasiswa Fakultas Teknik tidak sedang menggunakannya,papar Joko. (Bhas_wiji)
Continue reading →
Kamis, 03 April 2014

Sastra Sebagai Media Kemanusian

0 komentar

Sastra Sebagai Media Kemanusian
Pardi Suratmo: Melalui sastra manusia dapat memanusiakan manusia
Terlihat salah pembicara seminar tengah menyampaikan materi   (Bhas_doc)
Bhaskara-online, di Indonesia banyak sekali intelektual dan orang cerdas, namun masih sedikit yang bermoral.Mencapai keberhasilan adalah dambaan setiap orang tak terkecuali mahasiswa akan tetapi seharusnya mencapai keberhasilan secara bermartabat agar balance tetap terjaga. Salah satunya dengan memiliki pola pikir humanis yang diimplementasikan lewat sastra .Dengan hal ini segala bentuk perilaku yang menjadi produk manusia selalu terkontrol yang berlandaskan pada nilai-nilai kemanusian.
Seperti yang diungkapkan kepala balai bahasa provisi jawa tengah  Drs. Pardi Suratno, M, Hum, Berpikir humanis harus dimiliki sejak usia dini.tertanamnya humanisme dalam setiap individu sangat menentukan tahapan-tahapan pencapaian kesuksesan yang dilaluinya dengan benar. Menjauhkan dari tindakan mengambil jalan pintas, menjauhkan diri dari kebiasaan menyuap, bahkan mencegah sikap koruptif.
"Lewat sastra, dapat mentransformasikan humanisme sebagai kontrol terhadap diri dan sesama" ungkap Pardi selasa (1/4) dalam seminar yang digelar prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UMP.
Selain itu Pardi juga mengungkapkan peran penting sastra dalam kehidupan, dapat membangun kesadaran masyarakat sejak lama. Untuk membangun budaya kerja keras, mengandung penawaran nilai yang memang disiapkan untuk mengembangkan wawasan, selain hanya menghibur.
"Banyak sekali karya sastra yang menjadi rujukan untuk perubahan yang lebih baik, dengan penawaran kreativitas yang menyenangkan(_red)”. tuturnya
Dikesempatan yang sama pakar pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Negri Malang Prof. Dr. Djoko Saryono, M.pd mengucapkan, sudah ribuan tahun, agama, filsafat, ilmu dan teknologi, sampai pendidikan menjadikan manusia dan kemanusian menjadi poros, ajaran pemikiran pengkajian dan perekayasaan.Hal ini menujukan sentralisasi pada berbagai cabang ilmu adalah tetap pada manusia itu sendiri.
"Berbagai produk ilmu yang memudahkan manusia harus dibarengi dengan nilai-nilai kemanusiaan" ucapnya
Djoko menandaskan pada dasarnya kemanusiaan besangkutan dengan pikiran, perasaan, dan tindakan yang membuat martabat, keluhuran, kemuliaan, dan keagungan. Namun pada akhir-akhir ini, banyak sekali perilaku manusia yang berlaku sebaliknya.
"Jangan sampai manusia berada dalam kondisi anaimalitas(kebinatangan) apalagi kebendaan (bagai robot dan mesin). Ada hal mudah untuklangkah antisipasinya yakni bisa dengan strategi dan sinergi nilai kemanusiaan melalui pembelajaran sastra" tandasnya (Bhas_vri)
Continue reading →
Minggu, 23 Maret 2014

Ketika KM UMP Telah Bersuara

1 komentar
Ketika KM UMP Telah Bersuara
Terlihat KM memadati forum evaluasi            (bhas_doc)
Bhaskara Online - Malam pun semakin larut di kantin kampus biru. Sebuah gedung yang berisi warung-warung khas anak kampus. Kemarin (21/2) penuh sesak, dihadiri hampir seluruh anggota lembaga mahasiswa KM UMP. Walaupun tanpa disandingi kopi dan teh hangat, serta pisang rebus, untuk menghangatkan badan. Akan tetapi, semua itu tak menyurutkan kawan-kawan perwakilan lembaga, untuk terus menelurkan buah pemikirannya. Perhelatan tersebut dalam rangka, mempertanyakan kinerja Lembaga Tinggi (LT), yang dirasa tidak memberikan sumbangsihnya, paska diberikan tanggung jawab ke mereka, sembilan bulan lalu. Namun, ada kejadian menarik saat acara mendekati puncaknya. Ini karena sejumlah anggota KM duduk di depan pelataran kantin, Mereka berdiskusi lirih. Salah satunya, perwakilan dari Mapala, yang akrab disapa Ramon. Dia berucap, ternyata sangat hebat, ketika KM sudah bersuara.
"Wah, ternyata kuat ya. Kalau KM sudah seperti ini. Ini namanya Ketika KM Telah Bersuara. Walaupun dulu kita pernah renggang, tapi itu kan dulu. Sekarang ya jangan sampai," ucap pria yang bertubuh tegap itu, seraya berkelakar.
Kontan, perkataan Ramon pun, ditanggapi Perwakilan Mapala Satria yang lain, Feri. "Iya kalau seperti ini terus, KM bisa solid banget nih," katanya.
Delegasi dari Teater Perisai, Geri, pun tidak ingin kalah berkomentar. Mahasiswa yang terkenal suka bercanda ini berkata,"Kedekatan ini kan di mulai waktu ada, acara malam satu UKM. Keakraban ini, jangan sampai renggang lagi ya," ungkapnya, setelah itu tersenyum.
KM UMP yang telah berdiri cukup lama ini, tentunya dalam perjalanannya mengalami pasang surut. Namun, akan lebih indah jika seluruh lembaga dapat duduk bersama, dalam menyelesaikan segala permasalahan yang ada. Seperti yang terjadi semalam. (gun)
Continue reading →

Dewan Presidium Awasi Lembaga Tinggi

0 komentar
Dewan Presidium Awasi Lembaga Tinggi
Penandatanganan nota kesepemahaman, Dewan Presiduam dan Lembaga Tinggi
Bhaskara Online – Kemarin (21/3), Lembaga Tinggi (LT) didudukkan seluruh lembaga KM UMP. Mereka dituntut untuk mempertanggunjawabkan kinerjanya selama sembilan bulan ini. Itu karena, lembaga KM menganggap mereka telah mengabaikan tugas dan fungsinya. Hasil dari pertemuaan itu, terbentuk dewan presidium untuk mengawasi mereka dalam jangka waktu empat minggu. Dalam proses pengawasan tersebut, jika ditemukan pengabaian tanggung jawab kembali. Maka, kepengurusan LT yang tengah menjabat akan digulingkan.
“Saya senang dengan hasil evaluasi ini, jadi jelas. Kesalahan yang sebelumnya diperbaiki, jagan samapai lembaga-lembaga dibawahnya dan KM tidak diperhatikan lagi, seperti di FIKES hasil sidang umum saja tidak dikasih. melalui pengawasan ini para lemaga tinggi akan lebih perhatian dan menjalankan sesuai fungsi masing-masing. ini akan lebih mendinamisasikan KM. Saya harap, kedepannya untuk komunikasi harus ditingkatkan, pengawasan dimaksimalkan khususnya DPM,”  ungkap mahasiswa  Prodi Keperwatan S1, Lismanto, kepada LPM Bhaskara.
Senada dengan Lismanto, mahasiswa Prodi Agro Teknologi Riski Septiawan, mengatakan ada geliat positif dari forum evaluasi, karena menjadi cambuk para lembaga tinggi untuk benar-benar menjalankan tugas dan fungsinya. Ini akan menjadi perbaikan pada lembaga tinggi kedepanya.
“Menurutku bagus, diharapkan menjadi titik terang atas terbengkelainya tugas dan fungsi lembagga tinggi yang selama ini terjadi karena kurangnya koordinasi” ungkapnya
Terpisah, Dewan Presidium terpilih, Rian Priyanto, menuturkan optimalnya kinerja lembaga tinggi merupakan harapan dari hampir seluruh KM UMP. Berangkat dari forum evaluasi ini, diharapkan akan ada pembenahan di LT. Jangan sampai mereka hanya berlebel pejajabat tinggi KM UMP, namun tidak menjalankan kewajibannya.
“Kami selaku dewan presidium akan bertindak tegas mengenai hal ini. Kami akan jalankan peran kita sebagai Dewan Presidium, sesuai AD/ART. Kami akan keluarkan memorandum pertama setelah tiga minggu, kalau tidak ada itikad LT untuk memperbaiki. Selanjutnya, kami akan segera keluarkan memorandum kedua, jika masih saja tidak ada perubahan,” tandas Rian.
            Saat ditemui Bhaskara seusai evaluasi, ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiwa (MPM) Agung Wibowo Jati, menuturkan, pihaknya menghormati hasil evaluasi, selama semuanya masih menjunjung tinggi kemajuan KM UMP. Namun, dia tidak menjanjikan adanya percepatan kinerja lembaganya. Menurutnya, hal tersebut tidak  mudah.
            “Saya tidak masalah dengan diadakannya forum evaluasi ini. Sebenarnya, saya pribadi sudah merumuskanya rapat terbatas, untuk membahas permasalahan-permasalahan di lembaga tinggi,” tuturnya.
            Senada dengan Agung, ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Tri Husnu Abadi, menanggapi positif hasil evaluasi. Menurutnya, hal itu menjadi pendorong kinerja kedepannya.
”Kedepanya kami akan mempersolid seluruh jajaran. Walaupun banyak anggota DPM, yang tidak bersemangat lagi berorganisasi,” ungkapnya. (Bhas_vry)
Continue reading →
Senin, 10 Maret 2014

MPM, DPM, dan BPKM Tidak Populer Kinerja Lembaga Tinggi Dipertanyakan

1 komentar

MPM, DPM, dan BPKM Tidak Populer
·         Kinerja Lembaga Tinggi Dipertanyakan
BHASKARA – Genap sembilan bulan, lembaga tinggi dilantik. Sayang, masih ada sejumlah mahasiswa yang belum mengerti tugas, fungsi, serta kinerja mereka. Padahal keaktifan keempat lembaga tersebut, menjadi cerminan mahasiswa dalam memberikan aspirasi segala permasalahan.
“Informasi dan pengenalan berbagai lembaga tinggi hanya dilakukan saat masa OSPEK saja. Itu pun hanya melalui buku panduan saja, tidak diikuti dengan penjelasan lebih mendalam. Jangankan mahasiswa baru, mahasiswa yang lama pun masih banyak yang belum tahu. Apalagi mereka yang engga  mengikuti organisasi, yang mengikuti organisasi aja banyak yang ga tahu. Seharusnya, lembaga tinggi lebih sering menampakan diri, agar dapat lebih dikenal mahasiswa,” ungkap Mahasiswa UMP semester enam, Otih Nurhayati, Sabtu (8/3) lalu kepada Bhaskara.
            Senada dengan Otih, mahasiswa UMP semester delapan, Indra Subekti menuturkan sejauh ini hanya BEM. Menurut dia, itu pun baru terlihat kemarin saat melaksanakan SILATNAS. Untuk lembaga tinggi yang lain menurutnya lebih parah, sama sekali tidak terlihat kinerjanya.
“Lembaga tinggi, hanya BEM yang masih terlihat kinerjanya. Itu pun, karena Munculnya program (SILATNAS) Februari lalu, itu menjadi salah satu bukti. Pertanyaanya ialah, kemanakah BPKM, MPM, dan DPM, serta apa yang sebenarnya terjadi pada lingkup tersebut,” tuturnya.
Keterpurukan lembaga tinggi pun diamini Ketua HMPS PBSI, Eko Febri Prasetio. Dia menyatakan, kinerja lembaga tinggi hanya diraskan internal lembaga tesebut. Padahal menuutnya, justru mereka harus lebih memfokuskan kinerjanya kepada seluruh mahasiswa UMP.
 “Kinerjanya hanya untuk orang-orang dalam saja, tidak mencakup keseluruhan. Seharusnya kegiatan yang diadakan tidak hanya untuk anggota-anggotanya saja, melainkan juga harus melibatkan mahasiwa. Kalau memang program kerja yang dilakukan dirasa masih sangat kurang, lebih baik MPM dan DPM (lembaga tinggi_red) ditiadakan saja,” paparnya.
Adanya permasalahan kineja lembaga tinggi, tidak ditampik Ketua MPM, Agung Wibowojati. Dia mengungkapkan ketidakpopuleran lembaga tinggi di kalangan mahasiswa, karena lembaga tinggi kurang mendekati mahasiswa. Selain itu, juga karena adanya konflik antar lembaga tinggi sendiri.
 “Iya, karena kurangnya sosialisasi, setelah KOSMA banyak konflik, perubahan sistem lama ke sistem baru itu yang menyebabkan juga. Ya wajar saja kalau mahasiswa banyak yang tidak tahu. Di sisi lain, memang belum ada program kerja yang sudah berjalan (MPM_red). Selain itu, MPM juga tidak punya program kerja. Ditambah adanya konflik antar lembaga tinggi, terkait karena pelantikan Presiden BEM saat ini,” ungkapnya
Bibit adanya permasalahan kinerja lembaga tinggi, akibat dari proses pelantikan Presiden BEM yang dianggap menyalahi aturan, ditampik Lukman Hakim. Dia justru balik mempertanyakan koordinasi antara KPU M dan MPM waktu itu.
 “Kalau berbicara tentang pelantikan, aku tidak punya wewenang untuk itu. Yang melakukan itu adalah KPU kan, KPU itu di bawah MPM. Ya saya mempertanyakan kembali bagaimana koordinasi antara KPU dengan MPM. Siapa pun yang melantik saya. Saya siap. Atas dasar itu menjadi SK atas KPU. Saya tidak pernah mempermasalahkan siapa yang melantik saya,” ujarnya.
 Terpisah, DPM dan BPKM dikonfirmasi Bhaskara terkait permasalahan ini. Mereka tidak berada di sekretariatnya. Selain itu, dihubungi via telfon dan dikirim pesan pendek berkali-kali, tidak merespon. (Bhas_Ayu&Astri)

Continue reading →
Minggu, 09 Maret 2014

Pro Kontra Kebijakan LPPI

2 komentar
Pro Kontra Kebijakan LPPI
·         Lulus Baca Al Qur’an, Bayar Jaminan Rp 100.000 - Rp 250.000
seorang mahasiswa tengah melihat sertifikat baca AL-Qu'an        (Bhas_doc)
Bhaskara Online - Masih ada sejumlah mahasiswa yang belum lulus ujian baca Al Qur’an, LPPI keluarkan kebijakan jaminan lulus Rp 100.000 hingga Rp 250.000. Justru kebijakan ini membuat polemik di Civitas Akademika UMP. Ini karena, LPPI dianggap tidak memberikan langkah solutif terhadap permasalahan tersebut.
“Saya kurang sepakat dengan sistem seperti ini, masih banyak cara yang lebih efektif dan bijak yang bisa dilakukan. Punhismenth seperti ini hanya akan menambah beban mahasiswa, apalagi bagi mereka yang kurang mampu. Seharusnya LPPI  lebih menekankan kepada para mentor-mentor untuk sering mensosialisasikan Baca Tulis AL-Qur’an (BTQ) karena menurutku mentor lebih menjamah secara langsung pada para mahasiswa,” ungkap mahasiswa PKn semester delapan, Ari Budi Prihandoko, kemarin (8/3).
Senada dengan Ari, Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) UMP Agung Wibowo Jati, menuturkan kebijakan yang dikeluarkan LPPI memberatkan mahasiswa, seakan semuanya diwajibkan dengan uang
“Menurut saya hukuman ini tidak efisien dan terlalu membebani mahasiswa” ungkapnya saat ditemui Bhsakara.
Namun, pihak LPPI menyatakan kebijakan adanya uang jaminan tersebut, agar menggiatkan mahasiswa untuk belajar membaca Al Qur’an.  Itu dikarenakan, masih ada mahasiswa yang belum lulus baca Al Qur’an.
“Kami sudah berupaya keras hanya mahasiswanya saja yang malas. Padahal, untuk berlatih membaca Al Qur’an, kami LPPI sudah semaksimal mungkin dalam menginformasikan program BTQ mulai dari awal masuk mahasiswa baru di Stadium General, Mentoring, dan juga bimbingan intensif sebanyak 20 kali,” ujar Pengurus Bidang Kemahasiswaan LPPI, Ahmad Husain.
Husain, menjelaskan kebijakan jamianan uang tersebut bervariasi, sesuai dengan tingkatan semesternya. Tapi pihaknya, menuturkan uang tersebut akan dikembalikan untuk mahasiswa yang telah lulus baca Al Qur’an.
 “Untuk uang jaminan sertifikat baca AL-Qur’an, disesuaikan dengan semesternya. Untuk mahasiswa semester satu sampai enam, mahasiswa membayar 100.000 rupiah. Kemudian, untuk semester tujuh dan akhir membayar 250.000 rupiah. Kami belum tahu uang itu akan dialokasikan kemana, kami akan menunggu diambil setelah mahasiswa lulus ujian baca AL-Qur’an” jelasnya.
Terpisah, Wakil Rektor II bidang Administrasi, Joko Purwanto mengatakan, uang jaminan yang diberlakukan merupakan bentuk hukuman agar lebih giat dalam membaca AL-Qur’an
“Hukuman ini hanya sebagai acuan saja agar mahasiswa mau belajar membaca Al-Quran, katanya.
Berbeda, Badan Pengurus Harian (BPH) UMP, Drs. H. Umar AR menuturkan terkait adanya kebijakan uang jaminan dari LPPI, menimbulkan sejumlah dampak kepada mahasiswa. Menurutnya mereka dapat semangat berlatih. Di sisi lain, juga memberatkan mahasiswa.
Alokasi dana itu saya belum mengerti, tapi saya melihat ada unsur positif maupun negatif. Unsur positifnya, yaitu ada unsur semangat untuk belajar, namun negatinya memberatkan mahasiswa yang kurang mampu, masa apa-apa harus pake uang,tuturnya. (Bhas_Lang)
Continue reading →

Labels