ALT_IMG

Lomba Karya Jurnalistik Se BARLINGMASCAKEB

LPM BHASKARA Universitas Muhammadiyah Purwokerto mengadakan Lomba Karya jurnalistik Untuk Pelajar Se Barlingmascakeb dengan tema Buramnya Pendidikan Di Negriku.Download Formulir dan Ketentuan Lomba.

ALT_IMG

Adat Istiadat Perlu Berjalan Berdampingan Dengn Aqidah Islam

Awan mendung menyelimuti langit Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), rintik hujan mulai membasahi gedung-gedung mewah kampus biru. Pada saat yang bersamaan, tampak mahasiswa lalu lalang menuju lantai tiga di gedung PKM yang belum genap dua tahun dibangun itu.Selengkapnya..

Alt img

Pengelolaan Hotspot Belum Maksimal

Hotspot yang akhir-akhir ini menjadi popular, karena kemudahan dan keefektifannya membuat hotspot digemari para pecinta dunia maya. Universitas Muhammadiyah Purwekerto (UMP) merupakan salah satu yang menggunakan teknologi hotspot.Selengkapnya...

ALT_IMG

Buruknya Konsolidasi, Kesebelasan BEM Mundur

Belum genap satu periode kepengurusan, para pentolan Lembaga Tinggi sudah mulai meninggalkan kursi jabatannya. Terbukti dengan mundurnya 11 pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) periode 2012/2013 yang digadang-gadang sebagai ujung tombak penampung aspirasi mahasiswa. Selengkapnya...

ALT_IMG

Pemimpin Oh Pemimpin

Dengan air mata ini... Ku berharap kepadamu... Pemimpin... Selengkapnya...

Selasa, 16 Februari 2016

Minat Baca Mahasiswa Rendah

0 komentar
Perpustakaan UMP Perlu Tingkatkan Kualitas


Beberapa pengunjung sedang mencari referensi dan belajar di perpustakaan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP)

Bhaskara - Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) sepi pengunjung. Ini diukur dari jumlah mahasiswa yang berkunjung. Pada 2015, tercatat 91.247 pengunjung, dengan rata-rata 304 orang per hari. Saat dibandingkan dengan total mahasiswa UMP aktif berkisar 12.000, jumlah pengunjung tersebut amatlah sedikit. Belum lagi yang berkunjung ke perpustakaan UMP, tidak seluruhnya mahasiswa asli UMP, sebagian berasal dari masyarakat umum.
Dosen FKIP Prodi PBSI, Soni Asmoro menuturkan, perpustakaan harusnya menjadi jantung mahasiswa karena merupakan sumber ilmu. Namun, pada kenyataannya perpustakaan terlihat sepi. Kata dia, Hal ini dipicu dua hal, yakni kesadaran membaca yang masih rendah dan kurangnya fasilitas penunjang perpustakaan.
“Minat baca mahasiswa bisa diukur dari perpustakaan, kalau minat bacanya tinggi maka ramai, kalau rendah ya sepi. Repotnya sekarang, mahasiswa merasa tidak butuh karena dipengaruhi dengan adanya internet. Hal ini seharusnya juga dapat terbaca oleh pihak pengelola perpustakaan. Buku-buku di perpustakaan harus lebih bervarian, dan terus di-up date. Di sisi lain, ruangannya juga perlu desain ulang. Berikan ruang khusus, bagi pembaca,ungkap dia, beberapa waktu lalu kepada Bhaskara.
Mahasiswi FKIP Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, semester tujuh, Mahfiyati Yuliana Weni mengatakan, jarang ke perpustakaan, karena fasilitas yang kurang. Seperti koleksi buku, yang didominasi edisi lama. Kemudian, ruang baca yang tidak representatif.
“Sejak semester satu sampai enam, saya jarang mengunjungi perpustakaan. Tapi sekarang, hampir setiap hari ke perpustakaan, karena tengah mengerjakan skripsi. Saya kurang puas dengan fasilitas yang ada, terutama dari bukunya kebanyakan edisi lama, juga kurang lengkap, dan tata letak bukunya terlalu ribet. Kemudian, ruangannya kurang luas sehingga terlihat sumpek,” ujarnya.
Sementara itu, mahasiswa Fakultas Hukum semester satu, Dede Irawan mengaku, jarang ke perpustakaan UMP. Disebabkan sekalinya ke perpustakaan, justru buku yang dicari tidak ada. “Buku penunjang pembelajaran masih kurang lengkap dan banyak buku dalam keadaan rusak. Fasilitasnya juga kurang nyaman. Tempat duduknya sedikit, sehingga ada mahasiswa yang terpaksa membaca di lantai. Itu mengganggu pengunjung lain,’’ papar dia.
Sedangkan menurut mahasiswi Psikologi semester tujuh, Maulida Hilmawati mengatakan, pelayanan petugas perlu dimaksimalkan. Menurutnya, petugas acap kali menambahkan waktu istirahat. “Waktu Istirahat yang seharusnya pukul 12:00 sampai jam 13:00. Tapi, kenyataannya sebelum jam 12:00, pengunjung diminta keluar, biasanya setengah jam sebelumnya,” katanya.
Saat dikonfirmasi di kantornya, Kepala Perpustakaan UMP, Dwi Indah menampik, banyak koleksi buku di perpustakaan yang kebanyakan edisi lama. Dia juga berujar, jumlah buku yang ada selalu bertambah setiap tahunnya. Kami memiliki buku sebanyak 76.430 buah, dengan 34.087 varian. Itu juga termasuk jurnal,” jelas dia.
Dia menambahkan, penambahan buku selalu dilakukan. Terakhir pada Agustus 2015 lalu, ada 2.906 eksemplar koleksi baru. Menurutnya, sistem pengadaan buku, berdasarkan usulan dari dosen, kaprodi, dan mahasiswa melalui angket.
“Selalu ada penambahan koleksi buku baru, tetapi pada tahun ini memang tidak sebanyak tahun kemarin, karena lebih memfokuskan pengadaan prosiding, jurnal dan adanya rencana untuk menyediakan e-journal. Di sisi lain, kami juga mengakui dari fasilitas, ada beberapa yang belum memenuhi standar nasional perpustakaan. Begitu pula dari segi koleksi buku, yang hanya baru 75% yang terpenuhi. (Bhas_una, lita, lutfie, sinta)

Continue reading →
Jumat, 05 Februari 2016

LPM Bhaskara UMP hadir dalam acara Dies Natalis XXIII PPMI di UNIMUS

2 komentar
Anggota LPM Bhaskara berfoto dengan peserta Dies Natalis pada malam temu alumni PPMI (31/1) di halaman UNIMUS

LPM Bhaskara  UMP hadir dalam acara Dies Natalis XXIII PPMI di UNIMUS
Bhaskara- LPM Bhaskara Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) ikut berpartisipasi dalam perayaan Dies Natalis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) ke-XXIII di Universitas  Muhammadiyah Semarang (UNIMUS). Kegiatan dimulai pada tanggal 29 Januari- 1 Februari 2016. LPM Baskara hadir mewakili kota Purwokerto dengan menjadi peserta Seminar Nasional dengan tema “Persma Melawan Pembungkaman di Zaman Demokrasi”. Selain itu juga ada pelatihan jurnalistik yang terdiri dari  kelas advokasi, media, mobile dan investigasi.
Hal ini yang melatarbelakangi LPM Bhaskara mengikuti Dies Natalis XXIII PPMI. Dengan awak Bhaskara yang baru, tentu saja acara ini sangat bermanfaat. Sebab dijajaran pimpinan sendiri masih haus akan ilmu jurnalistik dan pengetahuan lebih mengenai persma, selain itu juga bisa bertemu dengan kawan-kawan persma diseluruh penjuru nusantara  dan  berbagi cerita, pengetahuan, pengalaman serta produk sehingga dapat membangun link dengan LPM se-Indonesia.
LPM Bhaskara mengirimkan 5 delegasi untuk menghadiri Dies Natalis XXIII PPMI yaitu Pimpinan Umum (decky Kurniawan), Wakil  Pimpinan Umum (Uswatun Hasanah), Pimpinan Redaksi (Oki Kurniawan), Pimpinan Perusahaan (Rifaldi Nanda Jaka P) dan perwakilan anggota penelitian dan pengembangan (diyan Arfiana) guna mewakili anggota LPM Bhaskara untuk ikut berpartisipasi dalam Dies Natalis PPMI ke-XXIII.
Dies natalis merupakan kegiatan rutin perayaan ulang tahun PPMI. Perayaan tahun ini tidak tepat pada hari ulang tahunnya. PPMI lahir pada tanggal 12 Oktober 1992 namun berhubung saat itu PPMI mengadakan Musker (musyawarah kerja) di Makassar bulan September tahun lalu sehingga perayaan Dies Natalis di sepakati akhir bulan Januari 2016.
Sekertaris Jenderal PPMI Nasional Abdus Somad mengungkapkan bahwa acara ini di design dengan konsep menawarkan issue mengenai kebebasan pers dan pendidikan dalam seminar nasional, memberikan pengetahuan dengan adanya pelatihan jurnalistik kepada peserta serta mengadakan forum evaluasi kerja PPMI Nasional dan kota sekaligus menguatkan solidaritas antara persma dan mengadakan kampanye berekspresi. PPMI menunjuk kota Semarang sebagai tuan rumah di usia ke -23 PPMI ini berdasarkan Musyawarah kerja di Makassar. UNIMUS mengajukan diri, bersedia serta merasa sudah siap untuk melaksanakan Dies Natalis tersebut.
“Acara ini diharapkan agar persma saling bersolidaritas, satu keluarga tidak terkotak-kotakkan ini Jatim, ini Jateng, ini makassar, sumatera dan lain-lain. Kita tidak ingin ada dikotonomi seperti itu, kita keluarga dan bertanggung jawab atas kasus-kasus yang menimpa mahasiswa. Dengan seperti ini kita dapat membangun solidaritas kekeluargaan dan jejaring untuk saling menguatkan serta mengevaluasi kinerja PPMI kota dan nasional”, ungkap Somad.
 Somad juga menanggapi dengan hadirnya peserta Dies natalis yang belum tergabung dalam PPMI. Pihak PPMI menyediakan forum evaluasi bagi teman-teman yang ingin membentuk dewan kota di daerah masing-masing. Harapannya berjejaring terlebih dahulu dengan teman-teman dengan cara diskusi.
“Jika ingin bergabung, kami bersedia memfollow up dan mengajak untuk masuk dalam struktur organisasi kami. Namun kami tidak memaksakan untuk join ke dalam organisasi kami karena yang dipertanyakan bukanlah seberapa besar manfaat yang akan kami berikan namun apa sih yang perlu kita perjuangkan? PPMI ini merupakan wadah untuk melindungi agar  persma tidak jotos-jotosan atau berseberangan ideologi karena persma riskan kekerasan, oleh karena itu kami mengharapkan eratnya solidaritas  antar sesama persma, papar somad kepada kawan-kawan Bhaskara.





Continue reading →
Kamis, 07 Januari 2016

Prodi PBSI gelar pembacaan puisi "persembahan untuk WS.Rendra"

0 komentar
Bhaskara-Mahasiswa semester 3 prodi PBSI mengadakan pementasan membaca estetik. Pementasan yang dilakukan pada tanggal 5-7 Januari bertempat di Auditorium Ukhuwah Islamiyah  mengangkat tema “Persembahan untuk WS. Rendra”. Pada hari pertama pementasan, Selasa (5/1) penonton tidak hanya berasal dari prodi PBSI tetapi juga berasal dari fakultas lain.
       Menurut dosen pengampu mata kuliah membaca estetik, Soni Asmoro, pementasan ini merupakan bagian dari ujian mata kuliah membaca estetik. Manfaat untuk mahasiswa PBSI yaitu agar kelak mereka menjadi guru yang tugasnya mengampu pelajaran tersebut atau menjadi guru ekstrakulikuler sudah ada pengalaman.”, selain memberi manfaat bagi mahasiswa PBSI sendiri hal ini juga bisa menjadi hiburan bagi penonton non PBSI “Karena puisi berangkat dari realitas dan  bisa digunakan sebagai media perenungan ataupun sindiran.”  ujarnya saat ditemui seusai menjadi juri pada acara tersebut.
            Hal yang sama juga diungkapkan Teguh Trianton, dosen PBSI, mata kuliah membaca estetik yang dikemas dalam bentuk pentas. “Ini dijadikan semacam tradisi, jika mereka (mahasiswa) membaca sendiri butuh latihan yang keras begitu pula acara ini juga butuh latihan keras namun ada kebersamaannya, dalam bentuk pentas kemudian ditonton sebab jika hanya dikelas saja teori mereka tak punya gambaran bagaimana rasanya membaca puisi didepan orang yang mereka tidak kenal.” ungkapnya saat selesai melakukan penjurian dalam acara yang sama.
            Pementasan tahun ini bertema persembahan untuk WS.Rendra menggelitik para penonton dengan pertanyaan yang senada mengenai latar belakang terangkatnya tokoh WS. Rendra sebagai orang yang layak mendapatkan persembahan malam ini. Dengan selaras segenap panitia, peserta serta juri yang terlibat memberikan jawaban bahwa WS.Rendra merupakan penyair terbesar yang karyanya masih relevan dibaca sampai sekarang. Inilah bentuk penghormatan terhadap maestro dan bukti cinta terhadap sastra.
            Di akhir acara mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 5, Prabuadi Prabowo mengatakan “Acara ini akan memberikan pengalaman dalam teaterikal puisi untuk mahasiswa khususnya semester 3 dan dosen memberi penilaian sebab ini termasuk proses pembelajaran. Adapun manfaatnya untuk penonton non PBSI mengenalkan teaterikal dengan menampilkan budaya yang ada terkandung dalam puisi tersebut” ungkapnya.
            Muharsyam selaku ketua tim produksi mengungkapkan ini merupakan pementasan wajib untuk semester 3. “Mahasiswa melakukan pretest yaitu membaca puisi kemudian dilatih untuk menampilkan dalam pementasan ini sehingga menjadi tolak ukur untuk membca puisi. Tujuannya melatih kemampuan mahasiswa PBSI dalam membaca indah dikhususkan pembacaan puisi karena sebagai guru Bahasa Indonesia dinilai harus bisa atau mahir membaca puisi. Ini adalah karya sastra yang sifatnya menghibur atau menyenangkan dan harus memberi manfaat dengan memberi nilai-nilai sastra untuk umum dengan adanya diskusi setelah pementasan agar memberi pengetahuan lebih.”, ungkapnya saat ditemui di sela-sela kesibukannya mempersiapkan acara.(Bhas_Ardi, Nita, Jaka, Una)
Continue reading →
Rabu, 06 Januari 2016

Minim Sosialisasi, Pesta Demokrasi Fakultas Teknik Sepi

0 komentar


            Bhaskara – Rangakaian Pesta Demokarasi yang tengah dihelat Fakultas Teknik (FT) hanya diisi segelintir mahasiswa saja. Seperti yang terjadi pada sesi debat calon Gubernur Fakultas Teknik yang dilakukan pada Senin (4/1) hanya dihadiri oleh 80 mahasiswa dari 977 mahasiswa Tenik yang tercatat di UMP.
Lesunya iklim demokrasi tersebut, disinyalir karena minimnya sosialisasi yang dilakukan pihak KPU terkait seluruh jadwal rangkaian pemilu rayanya FT.  Ketua KPU FT Dimas Anuggrah Adibrata mengakui pihaknya hanya memanfaatkan media sosial, tidak dalam bentuk surut untuk lembaga-lembaga maupun mahasiswa lainnya. Selain itu, pihaknya hanya melakukan sosialisasi melalui sistem “door to door” ke kelas-kelas saja. Setelah itu, pihak KPUM menyerahkan selurunya ke masing-masing calon dan tim suksesnya.
            “Kami sebenarnya kekurangan personil dalam menjalankan tugas sebagai KPU, karena keseluruhan tim kita hanya delapan orang saja. Sosialisasi yang kami lakukan dengan memperkenalkan calon-calon Gubernur ke setiap kelas dan tata cara pencoblosan nantinya, “ kata Dimas pada reporter Bhaskara kemarin.
Salah satu mahasiswa prodi Teknik Informatika semester lima, Muhammad Iqbal Husen, menyayangkan tidak menyeluruhnya informasi pelaksanaan debat calon Gubernur FT. Ia termasuk salah satu mahasiswa yang sebenarnya ingin mengikuti acara tersebut namun gagal karena tidak mengetahui jadwal pelaksanaannya.
“Saya tidak mendengar informasi tentang kapan acara debat itu dilaksanakan. Sebenarnya saya ingin ikut berpartisipasi dalam acara tersebut, ini adalah kerugian yang fatal. Karena jika mahasiswa yang tidak ikut dalam acara debat calon gubernur tidak dapat menilai kandidat lebih dalam, tidak dapat menjadi mahasiswa yang cerdas dalam memilih dan mempunyai landasan yang kuat” katanya
Menanggapi hal tersebut, Presiden BEM U, Bayu Prayoga, mengungkapkan kekecewaannya perihal  minimnya antusiasme kehadiran peserta debat calon Gubernur FT. Ia menyarankan, mengingat pentingnya acara tersebut seharusnya pemilihan waktu penyelenggaraan juga patut dipertimbangkan sehingga meminimalisir banyaknya absensi peserta.
“Ini mengecewakan. Karena dari jumlah mahasiswa FT yang hadir sangat sedikit. Menurut saya, panitia tidak boleh memilih waktu pelaksanaannya dengan sembarangan, seharusnya mereka membuat acara ini di pagi hari atau siang hari, saat sedang ramai-ramainya mahasiswa di kampus, sehingga semua mahasiswa yang akan menggunakan hak suaranya dapat menilai kandidat-kandidat yang akan menjadi gubernur mereka nantiya,” ujar Bayu kepada Bhaskara. (Bhas_oki,erlinda,ayuna,ismi)
 

Continue reading →

Fakultas Teknik Gelar Debat Calon Gubernur

0 komentar


Bhaskara - Gelaran pemilihan calon Gubernur Teknik kini telah masuk ke tahap pemaparan visi misi. Hajat terbesar Fakultas Teknik telah dilaksanakan pada Senin (4/1) pukul 16.00 WIB bertempat di Gedung Teknik lantai satu. Setelah KPU membuka acara, proses pemaparan visi misi langsung dilaksanakan oleh para calon kandidat gubernur BEM Teknik. Kandidat terdiri dari tiga calon, yang pertama mahasiswa Teknik Sipil semester 5 Perhat Rakajaya, kedua mahasiswa Teknik Sipil semester 5 Wahlul Sodikin dan Ketiga mahasisawa Teknik Informatika semester 5 Muhammad Fariz Nazamudin.

Pemaparan visi misi dari ketiga calon kandidat tersebut, lebih dominan pada permasalahan internal. Seperti yang disampaikan oleh kandidat pertama Perhat, menurutnya kesadaran akan sikap kekeluargaan, potensi sumber daya dan karakteristik mahasiswa Teknik perlu lebih ditingkatkan. Kandidat yang kedua Wahlul, menekankan pada perubahan karakter mahasiswa teknik yang diharapkan mempunyai rasa keharmonisan, elegan dan bermartabat tinggi. Sedangkan dari kandidat yang ketiga Fariz, mengungkapkan bahwa di Fakultas Teknik belum dapat merealisasikan sumpah mahasiswa secara nyata dan menurutnya hal ini harus jadi perhatian yang lebih utama. Dia juga menambahkan bahwa mahasiswa jangan hanya kritis dalam masalah internal saja tapi, juga harus kritis terhadap masalah kampus bila perlu sampai pemerintahan Indonesia. 

Saat proses pemaparan berlangsung terlihat sedikit ketidaksiapan dari salah satu calon kandidat. Seperti yang dikatakan  Almer Aldrin Mahasiswa Teknik sipil semester 1. “Saya perhatikan saat pemaparan visi misi, ada salah satu kandidat yang masih belum hafal  visi misinya sendiri, menurut saya, itu bisa dikatakan bahwa si calon kandidat itu belum siap,” ujarnya.

Setelah pemaparan visi misi selesai, dilanjutkan sesi tanya jawab antara kandidat dan peserta yang hadir. Pada acara tersebut, banyak mahasiswa yang menginginkan untuk bertanya kepada kandidat. Namun, panitia membatasi hanya enam penanya untuk pertanyaan umum dan 6 penanya untuk pertanyaan khusus. Hal ini dikeluhkan oleh Ali Imron mahasiswa teknik sipil semester 5 karena  menurutnya dari beberapa pertanyaan yang dilemparkan oleh peserta kepada calon kandidat tidak dijawab secara maksimal. “ Saya merasa jawaban dari para calon kandidat kurang memuaskan,” kata Ali.

Ali juga menyayangkan kinerja dari KPU yang kurang mengkondisikan peserta. Dari peserta yang hanya sekitar seratus tersisa menjadi setengahnya setelah di jeda 15 menit untuk shalat magrib. “Seharusnya KPU menyelenggarakan acara ini lebih awal, “ungkapnya.

Presiden BEM U, Bayu Prayoga, ia merasa kecewa melihat acara yang kurang kondusif. Namun menurutnya, antusiasme mahasiswa teknik dalam acara keorganisasian terlihat meningkat dibanding tahun lalu. “Mungkin sekitar 10% mahasiswa teknik telah menghadiri acara ini. Memang ada rasa kecewa tapi antusiasme mereka saya rasa sudah ada peningkatan dari sebelumnya” ungkapnya. (Bhas_Bayu,Sofa,Lita)
Continue reading →

Labels