ALT_IMG

Lomba Karya Jurnalistik Se BARLINGMASCAKEB

LPM BHASKARA Universitas Muhammadiyah Purwokerto mengadakan Lomba Karya jurnalistik Untuk Pelajar Se Barlingmascakeb dengan tema Buramnya Pendidikan Di Negriku.Download Formulir dan Ketentuan Lomba.

ALT_IMG

Adat Istiadat Perlu Berjalan Berdampingan Dengn Aqidah Islam

Awan mendung menyelimuti langit Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), rintik hujan mulai membasahi gedung-gedung mewah kampus biru. Pada saat yang bersamaan, tampak mahasiswa lalu lalang menuju lantai tiga di gedung PKM yang belum genap dua tahun dibangun itu.Selengkapnya..

Alt img

Pengelolaan Hotspot Belum Maksimal

Hotspot yang akhir-akhir ini menjadi popular, karena kemudahan dan keefektifannya membuat hotspot digemari para pecinta dunia maya. Universitas Muhammadiyah Purwekerto (UMP) merupakan salah satu yang menggunakan teknologi hotspot.Selengkapnya...

ALT_IMG

Buruknya Konsolidasi, Kesebelasan BEM Mundur

Belum genap satu periode kepengurusan, para pentolan Lembaga Tinggi sudah mulai meninggalkan kursi jabatannya. Terbukti dengan mundurnya 11 pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) periode 2012/2013 yang digadang-gadang sebagai ujung tombak penampung aspirasi mahasiswa. Selengkapnya...

ALT_IMG

Pemimpin Oh Pemimpin

Dengan air mata ini... Ku berharap kepadamu... Pemimpin... Selengkapnya...

Selasa, 29 Januari 2013

Pemimpin Oh Pemimpin

1 komentar
Oleh : Agni Priambodo
Dengan air mata ini...
Ku berharap kepadamu...
Pemimpin...

”Apa tujuan dipilihnya pemimpin?”. Pertanyaan yang tidak jarang muncul dalam benak kita. Pemimpin merupakan panutan atau pengambil kebijakan dalam sebuh organisasi atau manajemen. Maka tak ayal jika gerak-gerik seorang pemimpin selalu mendapat perhatian lebih dari pengikutnya. Pemimpin adalah seorang yang memiliki orang-orang yang mendukungnya. Mereka mengikuti pemimpin  karena adanya kekuasaan atau power. Power inilah yang membuat pola gerakan pemimpin terlihat lantang menembus sekat.
Walaupun pemimpin adalah seorang yang memiliki power berlebih, tentu dalam mengambil sebuah kebijakan hendaknya selalu berkordinasi dengan rakyat. Tindakan ini perlu dilakukan oleh pemimpin guna menampung aspirasi rakyat. Hal terpenting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan menggunakan mata hati.  Seringkali para pemimpin tidak mengindahkan kebijakan tersebut berpengaruh negatif atau positif kah untuk  masyarakat.
Mengandalkan mata hati dalam menjalankan roda kepemimpinan adalah cara sederhana namun sulit dilaksanakan ditengah gencetan  kepentingan pihak yang lebih memiliki power. Sehingga apa boleh buat, kebijakan yang diambil bukan untuk kepentingan masyarakat, tetapi untuk kepentingan golongan tertentu yang telah menggencetnya. Lagi-Lagi rakyatlah yang dikorbankan.
Menjadi pemimpin yang disegani oleh pengikutnya bukanlah perkara mudah, egois adalah salah satu faktor penghambatnya. Pemimpin otokratik tentu memiliki kekhasan dalam cara memimpin, bernada keras adalah salah satu contohnya. Entah dengan nada keras tersebut menandakan ketegasan ataupun keakuannya. Sehingga para pengikut jalan seperti mesin-mesin penggerak kebijakan.
Banyak harapan rakyat untuk para pemimpin. Namun sulit rasanya menyampaikan harapan rakyat langsung kepada pemimpin. Birokrasi yang berbelit adalah alasan klasik yang menjadi penghambat suara rakyat masuk kedalam telinga para pemimpin. Dengan beribu alasan, para bawahan pemimpin seakan kompak memperhampat suara masyarakat yang penuh akan kegalauan. Berfikir beban hidup yang tak kunjung ada jalan akhirnya selalu membuat beban sikologis masarakyat menjadi tinggi. Meningkatnya aksi kriminalitas adalah salah satu indikasi, dimana sebagian masarakyat sudah merasa frustasi dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan. Dibarengi dengan sifat para pemimpin yang kian hari kian melupakan tanggung jawabnya sebagai pemimpin tentu semakin memperparah keadaan sosial masyarakat.
Dewasa ini sedang ngetrend politik “blusukan” ala Jokowi, mantan Walikota Solo yang kini memimpin DKI Jakarta.   Tidak berapa lama Susilo Bambang Yudhoyono yang biasa disapa SBY pun latah. Entah mereka benar-benar menyerap aspirasi masyarakat dengan cara turun gunung  ataukah hanya sekedar politik pencitraan menuju Pemilihan Presiden RI pada tahun 2014. Patut kita waspada menghadapi  politik blusukan ala pemimpin kita ini. Apalagi pada tahun 2013 Kabupaten Banyumas mengadakan Pesta Demokrasi guna memilih pemimpin yang baru. Jangan sampai keadaan sosial masarakyat  menjadi tambah rumit akibat dijadikan ladang petarungan politik. Harusnya para pemimpin merasa malu terhadap rakyatnya sendiri, karena mereka telah mengorbankan kepentingan rakyat umtuk kepentingan golongannya.
Patut dianalisis oleh kita sebagai masarakyat Kampus biru, dalam waktu dekat ini masa kepemipinan  Presiden BEM UMP periode 2012-2013 akan segera habis. Akan kah politik blusukan ala Jokowi ini  diterapkan oleh mereka para pihak yang berkepentingan dalam rangka menghadapi Pemilu Raya 2013?
Sebuah pertanyaan yang sangat mendasar dibenak kita. Jikalau politik blusukan benar ditiru oleh kampus biru, apakah mereka akan benar-benar menyerap aspirasi masarakyat kampus?

“Kita harus berani menilik ke belakang, sesungguhnya apa niat mereka menjadi seorang pemimpin?
Untuk kepentingan pribadi?
Untuk kepentingan golongannya?
Untuk kepentingan masyarakat?”
Jika dari awal mereka telah berkomitmen untuk memenuhi hasrat diri sendiri, maka tak heran jika mereka mendapatkan kekayan materil maupun non materil yang memuaskan nafsu dunia  mereka. Jika dari awal mereka telah berminat untuk mensejahterakan kelompoknya, maka tak heran kepentingan masyarakat luaspun terkebiri. Jika dari awal mereka telah memiliki niat untuk menjadi tombak kebangkitan masyarakat tentunya keadaan masarakyat akan lebih nyenyak dari saat ini. Dimana kaum masyarakat menengah ke bawah yang menjadi penduduk mayoritas di negeri ini ternyata masih diminorkan dalam hal keadilan dan kesejahteraan.
Saat  ini, beramai-ramai para pemimpin saling menulikan telinga serta membutakan mata  dari realita yang terjadi di masyarakat. Ketika pendidikan kian mahal dan tak terjangkau oleh semua lapisan masyarakat,  ketika upah pekerja semakin dikepras oleh kepentingan kapitalis, ketika rakyat mulai bimbang kepada para pemimpin.Inilah masa dimana masarakyat mulai gundah akan kestatisan keadaan yang slalu merugikan mayoritas masyarakat. Maka tak salah jika kita peringatkan para pemimpin untuk memikirkan kebijakan yang telah mereka buat harus berpengaruh positif  kepada masyarakat.
Tidak bisa dipungkiri maraknya aksi kekerasan dalam kehidupan masyarakat bukan semata-mata karena kegagalan pendidikan moral, tetapi tak lepas juga dari perilaku pemimpin yang mengesampingkan moral mereka dalam bertindak, sehingga perilaku para  pemimpin mudah dicontoh oleh rakyatnya. Tindakan asusila serta korupsi adalah makanan sehari-hari rakyat yang diperoleh dari para pemimpin. Sungguh miris, diluar mereka berpenampilan penuh keanggunan namun didalam mereka layaknya sebuah pembunuh bayaran yang siap menikam siapa saja. Inilah pergaulan politik yang salah namun dilakukan oleh para pemimpin kita. Berlomba bermain dengan citra guna meraih simpati rakyat. “menangis di posko pengungsian korban banjir” adalah salah satu contoh penyakit citra yang slalu diluapkan oleh pemimpin kita. Rasanya rakyat harus meberi tahu kepada para pemimpin, hendaknya kalau bersandiwara tempatnya di lokasi shooting, bukan di posko bencana. Bermain dengan citra adalah salah satu langkah bodoh yang dilakukan oleh peimpin di tengah tersadarkannya mayoritas masyarakat.
Rasanya bukan isapan jempol semata, kinilah saatnya kaum muda yang harus memimpin. Kinilah saatnya kaum berintelek harus memimpin. Kinilah saatnya kaum proletar harus memimpin. Bukan tidak mungkin ketiga golongan ini mampu memotong rantai pemimpin yang acuh kepada rakyat. Pola kepemimpinan sekarang adalah serpihan dari pola pemimpin Orde Baru. Dimana otot bekerja lebih keras dibandingkan otaknya. Sehingga rakyat sudah mulai enggan mendengarkan janji ataupun lontran ucap para pemimpin.
Pemimpin yang tidak membela kepentingan mayoritas masyarakat adalah pemimpin yang tidak amanah, sehingga sah bagi kita, masyarakat yang tersadarkan untuk melawannya. Bukan dengan kekerasan, namun dengan tindakan yang berperikemanusiaan. Banyak contoh yang dapat kita ambil dari kebijakan pemimpin yang tidak pro rakyat, diantaranya adalah menaikan tarif dasar listrik ditengah maraknya aksi korupsi oleh para pemimpin serta vonis rendah para koruptor. Rasanya sakit hati rakyat tidak akan pernah terobati dan besar kemungkinan akan menjadi meriam bagi para pemimpin.
Ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh pemimpin, diantaranya pemimpin itu harus siddiq, artinya pemimpin harus berani menyuarakan kejujuran dan kebenaran. Jika pemimpin sudah mampu untuk bertindak jujur serta jauh dari kesalahan, maka pemimpin akan lebih memperhatikan kepentingan masarakyat ketimbang mementingkan kelompoknya. Pemimpin itu harus fathonah, artinya pemimpin harus memiliki intelektualitas tinggi, sehingga dalam memutuskan kebijakan untuk rakyat akan dipertimbangkan sematang mungkin untuk kebaikan masyarakat. Pemimpin itu harus amanah, artinya pemimpin yang dipilih oleh rakyat harus mampu membawa rasa percaya yang telah diberikan oleh rakyat, sehingga tidak muncul rasa kecewa. Pemimpin itu harus tabligh, artinya dalam menjalankan sistem pemerintahan, pemimpin harus berani transparan dalam manajemennya. Jika keempat poin tersebut dapat dipetik dan dijalankan oleh pemimpin kita maka kekecewan rakyat bisa dihindari.
Continue reading →

Di Balik Topeng Sang Pemimpin

0 komentar
Oleh: Zakaria Asidiq (Divisi Redaksi)
Aku terengah ketika aku membalikan lembar kedua dari koran yang aku baca hari itu, tangan kiripun baru setengah perjalanan mengantarkan secangkir kopi yang seharusnya aku sruput. Mataku seakan tak berkedip melihat kolom yang berada tepat di bawah berita utama. Kolom yang tidak begitu lebar, tapi jelas itu sangat menyakitkan.
Sejuknya pagi ituberubah menjadi ketidak nayamanan, bukan karna halusnya polusi yang mampu menipu kedua lubang hidungku, atau karna hangatnya matahari yang membakar pori – poriku secara perlahan. Bukan juga karna ketidak nyamanan kursi busuk yang telah menemani diseperempat usiaku, juga bukan karna barisan rayap yang menggerogoti meja hitam di sebelahku.
Tapi ini karna sebuah berita, berita yang mempu mengagetkanku, bukan tentang sebuah ledakan bom yang sudah sering terjadi. Atau tentang pembunuhan berantai yang mampu mengikat para pelakunya, bukan juga berita mengenai ketidak adilan yang kerap terjadi di negara ini, itu sudah biasa.
 Jantungku berdebar kencang ketika membaca paragraf ke dua yang menyebutkan namanya. Seakan nafas berhenti berhembus di lima detik pertama. Bulu kudukpun menegang bagai rerumputan di pagi ini ,bukan karna sesuatu yang mistis, tapi karna seseorang bernama.
“ Aditya Putra Damantiyo”
Sempat terfikir ada human eror dalam pencetakannya atau kemungkinan nama itu bukan milik seseorang yang ada dalam otakku. Hampir tidak ada kesalahan dalam pengejaannya, memang benar ini orang yang aku maksut, itu faktor pertama yang meyakinkan ku tentang kebenaran. Kebenaran yang selama ini menghitam, bagaikan tertutup awan gelap di sunyinya malam.
Tidak ada gambar atau apapun yang menguatkan dugaanku tentang kebenaran ini, hanya kerumunan manusia dengan salah satunya sebagai objek perburuan mereka yang lain. Angle yang tidak pas dari sang cameraman seolah objek itu membelakanginya, objek yang seharusnya menjadi tokoh utama dalam laporannya.
 Dan seketika aku teringat sesuatu tentangnya, tentang seseorang yang menjadi tokoh utama. Aku ingat, aku mengenal dia sejak tujuh tahun lalu ketika langkahku memasuki gerbang kedewasaanku, ketika langkah pertama menuju civitas akademi yang baru, civitas yang belum pernah aku masuki dan belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Lengkap dengan rasa penasaran yang menyelimuti kala itu.
“Selamat Datang Mahasiswa Baru”
Tulisan itu masih dapat aku munculkan dalam otak ini, tergantung rapih di pintu utama sebelah kiri, dengan berberapa tulisan - tulisan lain yang lebih menarik perhatian, tentu saja bukan sebuah jargon kampanye yang sedang di publikasikan. atau hanya sekedar iklan rumahan yang sering di tempel di pertigaan jalan.
Langkahku terhenti ketika di suguhi bangunan yang seolah berlomba menunjukan kemegahannya, dengan pepohonan yang berbaris sejajar di antara mereka, tak lupa juga rumput – rumput hijau yang seakan memantulkan cahaya mentari pagi. Serta hiruk pikuk mahasiswa – mahasiswa yang membuat suasana semakin terkesan dan mampu tersimpan dalam otak ini. lengkap dengan kenangan indah di hari pertama.
Aku melihatnya saat itu, ketika dia berbicara lantang di depan ribuan mahasiswa baru seangkatanku. Berorasi bagai singa yang sedang menunjukan jati dirinya, seperti sedang berkampanye politik pilkada di kabupatennya. Tepat berdiri di atas panggung besar dengan puluhan orang di belakangnya. Megaphone  di tangan kananya menambah powernya, memperkeras suara yang hampir terdengar ke seluruh penjuru ruangan itu, dan tangan kiri yang mengepal seolah melambangkan perlawanan, melawan segala bentuk ketidakadilan terhadap rakyat.
“kita di sini bukan sebagai generasi penerus, tapi kita di sini sebagai generasi pengganti”
Begitulah seruannya yang terakhir aku ingat, begitu pula dengan semangatnya, tergambarkan dengan satu kalimat yang menggerakkan seluruh ruangan. Semua berteriak, bertepuk tangan setelah dia menyelesaikan orasinya, persis seperti presiden berpidato di depan istana merdeka. Semua bertepuk tangan, termasuk aku yang saat itu duduk di barisan paling depan. Menikmati suasana saat itu, saat semua berteriak “ HIDUP MAHASISWA”, menikmati suasana pertama kali menjadi mahasiswa.
Jauh di belakang panggung aku meliat sosoknya lagi, dan lagi. Terlihat jelas kewibawaan yang dia miliki, dengan senyum manis dan rendah hatinya yang terangkum menjadi satu dalam aura indah di sekitar wajah.
“ yang tadi orasi siapa kak?”
Tanyaku kepada pamong yang berada tepat di bangku sebelahku.
“oh, itu presiden BEM”
Sudah jelas aku bisa merasakan bahwa dia bukan orang sembarangan. Jabatannya tinggi, Presiden mahasiswa, tertinggi dalam keluarga mahasiswa universitas ini. universitas yang menjadi pilihan melanjutkan study ku. Aku berfikir nanti aku akan seperti dia, bukan hanya sekedar semangat nya. Tapi juga tentang sikap kepemimpinannya yang membuat aku tertarik saat itu. Bet di almamater menunjukan seberapa banyak pengalamannya, sudah terlalu banyak seakan terlihat tidak ada ruang lagi di lengan almamater sebelah kiri di kanan. Tentu sudah banyak turun lapangan sudah banyak melakukan kegiatan dan sudah banyak melakukan aksi di depan ratusan bahkan ribuan rakyat di kabupaten ini.
Aku jadi teringat saat pertama kali aku melakukan aksi, ketika semester kedua aku menginjakan kaki di universitas ini. Aku berada tepat di belakang barisannya. Terlihat jelas tubuh tegaknya di mataku, tubuh yang menyelimuti hati kecilnya yang selalu membara. Hati kecil yang selalu ada untuk anggotanya. Ternyata bukan aku saja yang merasakan aura itu, tapi semua orang yang ada di sekelilingnya juga merasakan.
Dengan dua buah bendera yang dia pegang saat persiapan. ya, dia yang membawanya sendiri tidak mengandalkan anggotanya. Atau memerintahkan siapapun yang dia inginkan. Dia jarang memerintah, lebih banyak bekerja dari pada berbicara.
“ mas Adit itu orang nya seperti apa?” aku bertanya
Di tengah aksi seseorang yang sudah lama bersama dia menjawab dengan semangatnya, mungking terbawa suasana.
“sebenarnya mas Adit itu orangnya asik, rendah hati, berjiwa pemimpin, bertanggung jawab, juga selalu ada untuk anggotanya”
Semua type pemimpin ideal dia sebutkan tanpa menyebutkan kelemahan seorang Aditya sedikitpun, pasti ada namun tidak disebutkan.
Aku semakin mengenalnya ketika dia sedang duduk bersama mahasiswa lain yang tidak aku ketahui siapa dan apa yang sedang mereka lakukan di sana. Melingkar, bagai sekumpulan biji – biji kecil dari kejauhan. Saling berhadapan satu sama lain, seperti sedang merencanakan hajad besar dalam kehidupan mereka. Dengan selembar karpet bergambarkan rumah ibadah yang menjadi alasnya. Serta pilar – pilar besar yang mengapit posisi mereka. Beberapa orang duduk menghadap mimbar besar yang berada tepat di ujung ruangan itu, dan beberapa orang lain membelakanginya.
Sengaja aku memposisikan diriku tidak jauh dari mereka, hanya beberapa meter, tidak juga terlalu dekat. Kedatanganku tentu bukan tanpa tujuan, dan sang penciptalah yang menjadi tujuanku.
“ selanjutnya laporan dari setiap seksi”
Terdengar jelas suara yang terdengar dari salah satu di antara mereka saat aku menyelesaikan rakaat kedua. Aku menyadari sebuah rapat sedang di lakukan di sini. Rapat yang membahas tentang apa yang tidak aku ketahui hingga hari ini. Salam keduaku mengarah ke posisi mereka dan saat itu aku tahu dialah pemimpinnya.
Seorang pria muda yang tidak bisa di tebak berapa usianya, sekitar dua puluh atau dua puluh dua tahun, aku tidak tahu. Yang aku tahu dia terlihat lebih berwibawa di antara mereka,terlihat lebih dewasa dan terlihat lebih cerdas, dari cara bicara aku sudah mengetahuinya. Lagi – lagi orang yang sudah lama menarik perhatianku.
“ untuk laporan peserta, sampai hari ini H minus empat baru terdaftar enam puluh empat peserta dari target seribu peserta”
Seseorang dia antara mereka melaporkan hasil kerjanya kepada sang ketua.
Tentu ada kejanggalan dalam laporannya, sang panitia kurang banyak mendapatkan peserta dalam acaranya.
“ seksi perlengkapan melaporkan tempat sudah fix di audit, namun jika pesertanya sedikit ada kemungkinan acara di pindahkan ke tempat lain yang lebih kecil, untuk mes dan mobil untuk menjemput pembicara belum sempat di konfirmasi karna saya banyak tugas lain yang harus lebih saya prioritaskan”
Kejanggalan terlihat di sini, yang tentu saja bukan hanya kesalahan satu seksi. Namun seluruh panitia yang di nilai tidak siap dengan persiapan penyelenggaraan  acara ini. Persiapan yang seharusnya sudah fix di segala sisi, mengingat empat hari lagi acara akan di selenggarakan
Sama sekali tidak ada perasaan marah dari sang ketua, atau perasaan kesal kepada anggotanya. Dia terlihat hanya sedikit berfikir, mencari jalan keluar mungkin. Dan sesekali menarik nafas panjangnya.
“ tidak ada yang di salahkan, kita sama – sama intropeksi diri dimana kesalahan kita, dimana kekurangan kita sehingga masih ada yang perlu lebih di perhatikan sebelum hari yang sudah kita tentukan”
Itu jawabannya, itu hasil pemikiran cepatnya. Tidak ada yang di salahkan, apa lagi yang di buatnya merasa hina saat itu. Bahkan sebuah senyuman yang di hasilkan, senyuman dari sang pemimpin tidak pernah menyalahkan anggotanya.
Sifat kepemimpinanya semakin jelas saat tahun ke dua aku mengenalnya. Tidak lagi sebagai presiden tapi sebagai ketua organisasi ekstra kampus di tingkat cabang dan aku juga berada di dalamnya. Ketika aku dan dia sudah akrab, sudah di bilang dia sebagai tempat curhatku selama ini. Hampir setiap hari aku melihat mukanya, karna kami tinggal berlima bersama anggota lain di ruangan sempit yang kami sebut sekretariat.
Aku, dan mas Adit dari satu kampus yang sama. Kahfi, Taufan dan Ari dari dua kampus yang berbeda. Kedekatan kami sudah seperti saudara. Saudara yang beda orang tua tentunya. Mereka bertiga sudah tahu karakter mas Adit seperti apa, begitu juga dengan karakter kepemimpinannya.
Dan ini bukan pertama kali mas Adit menanyakan tentang perkuliahanku, perkuliahan yang sebenarnya banyak permasalahan, namun selalu aku gambarkan dengan sebuah senyuman kepadanya. Persis seperti dia yang selalu melambangkan kesedihan dengan wajah imutnya, tak pantas memang jika di bilang imut, mengingat usianya yang lebih menginjak seperempat abad.
“gimana Ver beres kuliahnya, ada kendala apa?”
Ribuan kata itu telah terucap sejak pertama kali aku bersamanya, bahkan terkadang aku bosan. Bukan dengan pertannyaannya, tapi dengan kepalsuan sebuah jawaban dariku.
“ beres mas, cuma sedikit masalah sama IPK”
Sedikit aku bilang, itu masalah besar babagiku mengingat angka tiga tidak terlampaui di semester kelima ini.
“ selain fokus ke organisasi kamu juga harus fokus ke kuliah, managemen waktumu harus lebih di atur lagi biar organisasinya dapet kuiahnya jaga dapet”
Begitulah gaya sang pemimpin memberikan solusinya, itu yang sampai sekarang masih membekas dalam hati ini. perkataan yang tidak hanya menyentuh tapi juga memotivasiku untuk lebih maju. Dan itu bukan hanya aku saja yang merasakan , Kahfi, Taufan, Ari bahkan anggota yang lain juga merasakan hal yang sama, merasakan kenyamanan saat bertukar fikiran dengan dia.
Ingatanku seakan runtuh pagi ini, tidak pernah aku duga sebelumnya. Seseorang yang menjadi contoh pemimpin ideal merendahkan martabat serendah – rendahnya bahkan lebih rendah dari binatang sekalipun. Seseorang yang sudah aku kenal lama, bahkan aku anggap sebagai kaka pada saat itu. Dalam hatiku bertanya – tanya, apakah mungkin ini terjadi, apa yang melatar belakangi dia melakukan hal seperti ini.
Sempat terfikir suaraku dan ribuan suara yang di peruntukan kepadanya hanya sia – sia, menghasilkan sebuah amanat yang tidak dijaga kuat. Menyesal rasanya memilih dia dalam pemilihan bupati dua tahun lalu. Memubazirkan ribuan suara sakral yang melambangkan kepercayaan, amanat dan mandat yang aku berikan sebagai wakilku untuknya, dan juga wakil untuk rakyat lainnya.
200 juta, adalah angka yang mampu mengantarkannya ke hotel prodeo, hotel yang tidak pernah di idam – idamkan oleh siapapun, termasuk dia. Tertulisan yang mampu memanipulasi otak untuk memerintahkan  tangan  menghentikan geraknya dan menjatuhkan secangkir kopi hangat ke atas lantai. Dan pecah berantakan dengan warna hitam pekat dari kopi yang masih melekat di dasar cangkir, tepat menggambarkan hatiku. Jelas dalam koran pagi ini. berita yang sempat mengagetkan aku
“ Sang Bupati, Tersangka Utama Korupsi Pengadaan Mobil Pemadam”
Continue reading →

Pengelolaan Hotspot Belum Maksimal

3 komentar

Seorang mahasiswi yang gagal mengakses internet di UMP
Hotspot yang akhir-akhir ini menjadi popular, karena kemudahan dan keefektifannya membuat hotspot digemari para pecinta dunia maya. Universitas Muhammadiyah Purwekerto (UMP) merupakan salah satu yang menggunakan teknologi hotspot. Untuk dinikmati segenap civitas akademika, UMP sudah mulai menggunakan hotspot dari tahun 2007 yang diharapkan bisa menunjang dan mempermudah  kegiatan pembelajaran dan administrasi civitas akademika. Tetapi akan sangat berbeda dengan kenyataanya, karena masih  banyak mahasiswa yang mengeluh koneksi hotspot di UMP.
Seperti yang dirasakan Luki Dwi Paramitasari Mahasiswa pendidikan bahasa Inggris semester lima. Luki yang juga aktif di radio Gradiosta mengaku kalau untuk mencari informasi terpaksa harus menggunakan handphone (HP) karena hotspot yang jarang connect. “Padahal saya harus memberikan berita-berita terbaru kepada pendengar”, ujarnya.
Begitu juga dengan apa yang dirasakan Teater Perisai. Hotspot yang mati sejak Oktober mengurungkan mereka untuk mempublikasikan kegiatannya. Misalnya saja hasil pentas seni drama pelajar, parade studi pentas dan workshop cinematograpfi yang kesemuanya itu hasilnya akan upload ke website dan facebook. “Karena hotspot UKM mati  akhirnya ada yang belum terunduh,” ujar ketua UKM Perisai Tri Suciadi menyesalkan.
Letak gedung UKM yang berdekatan dengan PTIK sebagai pengelola jaringan ternyata bukan jaminan cepatnya penanganan permasalahan koneksi di UKM. Hingga berita ini diturunkan, para pengurus UKM belum bisa mengakses hotspot. Lain halnya dengan HMPS Sejarah yang malah tidak kebagian jaringan.
Yusup anggota HMPS Sejarah mengatakan, tidak adanya jaringan hotspot sampai ke sekretariat hmps sejarah menjadikan anak- anak HMPS Sejarah memilih tempat lain yang dianggap mendapat jaringan hotspot yang memadai.
Tidak hanya itu, masalah lambatnya koneksi juga dirasakan beberapa mahasiswa. Hal ini membuat mahasiswa merasa dirugikan. “Ini tidak sebanding dengan apa yang sudah kita bayar . “ Ujar Sabrina Hylaby  dara cantik berdarah Arab Mahasiswi Fakultas Ekonomi semester akhir ini. “Keleletan hotspot juga menggangu proses pembelajaran.” Tambahnya.
Dari data terakhir Mahasiswa yang mendaftar  sebanyak 1446 . Masih banyak Mahasiswa yang belum memanfaatkan hotspot dengan maksimal. Dengan kapasitas 9Mbps berarti masing-masing Mahasiswa mendapatkan kapasitas sebanyak 6,2Kbps apabila semua Mahasiswa yang mendaftar pada saat yang sama aktif menggunakan Hotspot. Tapi keleletan hotspot masih dirasakan oleh mahasiswa. “Kalau menurut saya lelet itu tergantung tempat, ada tempat yang cepet ada yang lelet banget. Seperti di secretariat HMPS teknik itu lelet banget. Tapi kalau di gedung F ya cepet.” Ujar Rian Wisnu Wardhana Mahasiswi Program Studi (Prodi) Teknik Sipil semester satu ini.
Proses pendaftaranpun dinilai terlalu bertele-tele dan membuang waktu mahasiswa karena harus mendaftar setiap semester. Proses pendaftaran yang dinilai ribet ini menjadikan Mahasiswa enggan untuk mendaftarkan IDnya untuk menikmati fasilitas Hotspot. “Mau daftar jadi males, soalnya setiap semester harus daftar ulang.” ungkap Anisa, Mahasiswa Fakultas Ekonomi semester akhir ini.
Lain halnya dengan yang dikatakan Mahasiswi  Pendidikan Biologi semester lima Adfi Oktafia. “Kalau saya sih gak merasa ribet, mungkin memang untuk data,” ucapnya lembut. Mode pendaftaran persemester dilakukan PTIK untuk mendata Mahasiswa yang masih aktif ataupun yang sudah tidak lagi berproses di UMP, agar Hotspot hanya bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa UMP saja. Hal itu juga dilakukan untuk  meminimalisir adanya pembobolan bandwidth. Dan menjaga kekuatan Hardwere. Sedangkan menurut Catur ari Jatmiko dari prodi Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) semester tujuh mengatakan, “pemakain hotspot di UMP sangat tidak efesien dan penggunaanya pun sangat lelet serta ribet. Kita kan disini sudah membayar hotspotnya kenapa ketika mau menggunakanya susah dan ribet, karena  harus memakai password. Padahal di unversitas lain itu tidak perlu menggunakan password dan dapat langsung mengakses data secara cepat.” Ungkapnya bersungut-sungut.
Awal hotspot diadakan di UMP Mahasiswa hanya mendapatkan jatah  50 jam per semester yang sekarang menjadi 70 jam per semester dengan biaya 50.000 rupiah setiap Mahasiswanya per semester. Sedangkan Mahasiswa yang aktif memanfaatkan hotspot  hanya sekitar seperenamnnya saja. “Kalau semua mahasiswa sudah registrasi dan memakai sih saya maklum kalau internetnya lelet. Tapi kita tahu masih banyak mahasiswa yang belum registrasi atau tidak memanfaatkan hotspot dengan maksimal. Kenapa kok dari pihak PTIK tidak menggunakan jatah itu untuk meningkatkan signal  supaya lebih baik lagi.” Ungkap Tri Suciadi Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris semester sembilan ini. Dengan biaya 50.000 rupiah per semester yang artinya dalam satu semester dana yang masuk untuk hotspot sendiri senilai 450.000.000 rupiah, bukan nominal yang sedikit memang untuk mengadakan hotspot yang lebih baik.
Saat ditemui Bhaskara, Pihak Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) berdalih, keleletan hotspot hanya pada saat jam kerja saja dan keleletan dibawa dari pihak PT.TELKOM itu sendiri. “kalau TELKOM down ya kita ikut down.”   Ungkap Deni Lestiono selaku Divisi Software dan Jaringan.
Harga hotspot  yang murah juga mempengaruhi kecepatan dan kapasitas browsing. Yang pada saat berdiri hanya berkapasitas 10Mbps sekarang menjadi 25 Mbps dengan biaya langganan 85 juta perbulannya Mahasiswa hanya medapatkan jatah 9Mbps saja, itu juga harus berbagi dengan kampus II yang berada di Sokaraja. Dengan total Mahasiswa kurang lebih 9000 Mahasiswa yang berarti setiap Mahasiswa hanya mendapatkan jatah 1Kbps. Menurut Deni, “Saya pikir untuk sekarang ini masih cukup untuk kebutuhan Mahasiswa. Inikan sedang dalam uji coba, nanti kalaupun kurang baru kita tambah kapasitasnya.” Ujarnya mantap.
Ia menambahkan, Perangkat yang digunakan baik Hardware maupun software pengguna hotspot juga menjadi salah satu faktor sulitnya mendeteksi signal yang menyebabkan lambatnya koneksi. Sedangkan Untuk permasalahan jaringan di UKM mungkin mati karena tersambar petir. “Kalaupun ada masalah dengan hotspot, mahasiswa bisa mengajukan surat permohonan perbaikan ke pihak kita. Karena kita tidak menyediakan alat, kalau ada permasalahan kan ada prosesnya. Kalau ada surat baru bisa diproses ke Badan Administrasi Umum (BAU) untuk pengadaan alat baru bisa diperbaiki. ” Ujar Deni. Tapi sampai saat ini pihak UKM belum menyampaikan surat permohonan perbaikan kepada pihak PTIK. Hanya penyampaian keluhan secara lisan.
Sedangkan menurut Dekan Fakultas Teknik Anwar Ma’ruf,S.T, M.T, Acess point yang berfungsi sebagai penguat sinyal belum menyebar rata karena letaknya yang berjauhan. Hal inilah yang menghambat penangkapan signal hotspot.
Universitas Muhammadiyan Purwokerto yang mempunyai slogan yang salah satunya “Modern” patut untuk dipertanyakan. Hotspot yang belum diadakan secara maksimal oleh UMP menjari PR pihak UMP sendiri. Pengadaan Hotspot juga masih dipertanyakan karena Pengisian KRS di UMP masih di lakukan secara manual.
Pihak PTIK maupun UMP diharapkan untuk meningkatkan pelayanan karena dirasa masih setengah-setengah dalam mengadakan fasilitas Hotspot sendiri. Kurangnya komunikasi pihak kampus maupun mahasiswa menjadikan pengadaan fasilitas belum maksimal. Agar hak yang harusnya diterima oleh mahasiswa diberikan seutuhnya. (Tiwi, Prisma, Vida, Sri_Bhas )
Continue reading →
Jumat, 25 Januari 2013

Sistem Kepartaian Rentan Konflik Horizontal

0 komentar

 

Keluarga Mahasiswa Universitas Muhamaddiyah Purwokerto (KM UMP) yang sejak berdiri pada 20 JUNI 1998 menganut sistem kelembagaan kini memetamorfosakan dirinya menyerupai sistem yang ada di Indonesia, yaitu menggunakan sistem kepartaian.

KM UMP di nilai perlu perubahan untuk menciptakan KM yang lebih baik lagi sehingga perlu mencoba sistem kepartaian ini. Sistem Kepartaian mahasiswa adalah sistem dimana pencalonan – pencalonan mahasiwa ke lembaga tinggi kampus melalui partai dan tidak lagi melalui lembaga – lembaga di tingkat fakultas atau prodi seperti yang di lakukan sekarang ini. “Dengan pergantian ke sistem kepartaian ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran mahasiswa menghadapi sistem pemerintahan Indonesia nanti”, ujar Najun Mahasiswa Fakultas Agama Islam. Dosen Pkn ,Banani juga mengemukakan pendapat yang sama. Beliau mengatakan, “bagus jika KM UMP ingin menggunakan sistem kepartaian, atmosfer politiknya menjadi ramai nantinya”. Sistem ini di nilai dapat menjadi pembelajaran bagi mahasiswa untuk kepemerintahan yang sebenarnya di Indonesia.” Kampus itu kan miniatur negara, dengan adanya Sistem kepartaian ini nantinya mahasiswa dapat berlatih sistem demokrasi yang ada di Indonesia, tambah banani

Sistem kelembagaan yang dari dahulu di anut oleh KM UMP di rasa masih banyak kekurangan. Banani juga menjelaskan, “ Jika menggunakan sistem kelembagaan, dalam pemilihan presiden mahasiswa tentu pemenangnya yang anggota lembaganya banyak, yang seperti itu tentu saja kurang demokratis, sehingga perlu di gunakan alternatif lain demi menwujudkkan pemilihan yang demokratis.

Sistem kepartaian mahasiswa yang sudah di wacanakan sejak Kongres Mahasiswa (KOSMA) ke 11 (6/2011) mulai di persiapkan oleh Dema UMP. ” sistem kepartaian ini adalah amanat yang di berikan dari kosma kepada Dema, jadi kami harus melaksanakan amanat tersebut”, kata Najun selaku Ketua Dema UMP. Serangkaian persiapan sudah dilaksanakan termasuk studi banding ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) hingga membentuk tim khusus guna menggodog peraturan – peraturan yang di terapkan dalam pelaksanaan sistem kepartaian nanti. “ Dema telah berusaha semaksimal mungkin dalam mempersiapkan sistem kepartaian ini, kami juga membentuk tim khusus yang terdiri dari Dema Fakultas, BEM Fakultas, Dema Universitas dan Mantan Lembaga tinggi UMP” tambah najun.



KM UMP dinilai siap melaksanakan sistem tersebut pasalnya mulai dari Lembaga tinggi tingkat Fakultas dan Universitas serta mantan anggota lembaga tinggi UMP mendukung penggantian dari sistem kelembagaan menjadi sistem kepartaian.

Namun hal tersebut di bantah beberapa mahasiswa yang ada di tingkat lembaga Fakultas. Mereka menilai KM belum siap melaksanakan sistem tersebut karna dinilai keadaan KM yang masih prematur. Ketua BEM Teknik nenegaskan “masih banyak mahasiswa yang lebih mementingkan kuliahnya dari pada politik dalam kampus”. Ini dapat terlihat masih sedikit mahasiswa yang perduli dengan politik di dalam kampus. Termasuk mahasiswa yang mengikuti lembaga maupun mahasiswa cair. Mereka tidak tahu apa itu sistem kepartaian bahkan mereka juga tidak tahu sistem seperti apa yang di gunakan di dalam KM UMP sekarang ini. Tidak sedikit juga yang mengetahui apa itu KM UMP.

Apabila melihat kondisi KM sekarang terdapat kesenjangan interaksi kekeluargaan. Ini juga merupakan salah satu faktor ketidaksiapan KM UMP melaksanakan sistem kepartaian tersebut. Ketua HMPS PGSD, Rifki Maulana mengatakan, “dibandingkan kondisi KM UMP sekarang kurang erat rasa kekeluargaannya dibandingkan saat kepemimpinan dua tahun lalu, namun untuk kegiatan mahasiswa sekarang lebih hidup dan lebih sigap menyelesaikan masalah mahasiswa”. Kondisi KM UMP pun di nilai masih prematur, dalam arti SDM yang siap dan mampu melaksanakan sistem kepartaian ini masih sangat minim. Mengingat kondisi KM UMP yang seperti ini, jika sistem kepartaian tetap di laksanakan maka akan terjadi kekacauan di dalam kampus. Dangan penyelenggaraannya yang seenaknya. Rifki menambahkan, “ jikapun sistem kepartaian ini benar – benar di laksanakan akan semakin meranggangkan kekeluargaan dalam KM UMP, dengan persaingan antar partai yang bisa jadi tidak mendahulukan kepentingan KM UMP sendiri. Sebaiknya tetap menggunakan sistem kelembagaan namun di perbaiki dan lebih di tata. Apapun sistem yang digunakan sebenarnya tidak menjadi masalah asalkan sistem yang dipakai dapat mempererat hubungan KM dan memajukan UMP”

Sungguh ironi bahwa KM akan mengubah sistem kelembagaan menjadi sistem kepartaian sedangkan masih banyak mahasiswa yang belum tau apa itu KM padahal mereka adalah bagian dari KM. Ditambah lagi tentang sistem kepartaian belum banyak dipahami oleh mayoritas mahasiswa. Dari banyaknya mahasiswa yang tidak mengetahui sistem ini, seharusnya ada sosialisasi yang lebih dari awal. Keterlambatan sosialisasi menjadi kunci utama dalam ketidaksiapan KM UMP. Seharusnya KM UMP lebih dahulu mensosialisasikan ke seluruh mahasiswa, seperti sistem yang telah di laksanakan di dalam KM UMP dan seperti apa sistem baru yang akan di gunakan nanti.(Zacki, Wiji, Okti)

.

Continue reading →

Labels