ALT_IMG

Lomba Karya Jurnalistik Se BARLINGMASCAKEB

LPM BHASKARA Universitas Muhammadiyah Purwokerto mengadakan Lomba Karya jurnalistik Untuk Pelajar Se Barlingmascakeb dengan tema Buramnya Pendidikan Di Negriku.Download Formulir dan Ketentuan Lomba.

ALT_IMG

Adat Istiadat Perlu Berjalan Berdampingan Dengn Aqidah Islam

Awan mendung menyelimuti langit Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), rintik hujan mulai membasahi gedung-gedung mewah kampus biru. Pada saat yang bersamaan, tampak mahasiswa lalu lalang menuju lantai tiga di gedung PKM yang belum genap dua tahun dibangun itu.Selengkapnya..

Alt img

Pengelolaan Hotspot Belum Maksimal

Hotspot yang akhir-akhir ini menjadi popular, karena kemudahan dan keefektifannya membuat hotspot digemari para pecinta dunia maya. Universitas Muhammadiyah Purwekerto (UMP) merupakan salah satu yang menggunakan teknologi hotspot.Selengkapnya...

ALT_IMG

Buruknya Konsolidasi, Kesebelasan BEM Mundur

Belum genap satu periode kepengurusan, para pentolan Lembaga Tinggi sudah mulai meninggalkan kursi jabatannya. Terbukti dengan mundurnya 11 pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) periode 2012/2013 yang digadang-gadang sebagai ujung tombak penampung aspirasi mahasiswa. Selengkapnya...

ALT_IMG

Pemimpin Oh Pemimpin

Dengan air mata ini... Ku berharap kepadamu... Pemimpin... Selengkapnya...

Kamis, 10 Mei 2012

Titik Nadi Pers Mahasiswa

0 komentar
Persma Pra Kemerdekaan
Pers Mahasiswa (persma) yang kental dengan aroma pergerakan kaum intelektual telah mengambil peran penting dalam upaya membangkitkan semangat perjuangan. Perjalanan persma memang selalu mengalami perubahan di setiap zamannya. Pada masa perjuangan mengambil alih sebagai media pergerakan melawan imperialisme dan kolonialisme Belanda. Embrio persma muncul sekitar 1908-an, ini dicikal bakali dengan adanya pemuda Indonesia yang menuntut pendidikan di sekolah-sekolah Belanda.
Mereka bertujuan menginformasikan kepada rakyat Indonesia pada saat itu dalam keadaan terjajah. Kemudian antara tahun 1914-an sampai 1938-an, pertumbuhan persma bak bunga di musim semi. Seperti lahirnya “Jong java”, “Jong Celabes”, “Oesaha Moeda”, “Soeara Indonesia Moeda”, serta keikutsertaan Soekarno dan Hatta dengan menerbitkan Indonesia Merdeka dan Fikiran Rakyat. Mereka berusaha mengkritisi pemerintahan kolonial Belanda yang menyengsarakan rakyat Indonesia.
Dalam perjalanan di masa penjajahan, persma mengalami masa surut manakala harus turut berjuang secara fisik. Mendekati 1945, segenap elemen bangsa Indonesia bergabung dalam rangka membuka pintu gerbang kemerdekaan yang dikomandani Ir. Soekarno, tidak terkecuali persma.
Continue reading →

Melirik Kembali Fungsi Pers Mahasiswa

2 komentar
Pers Mahasiswa (Persma) seperti kita ketahui merupakan kelompok pemuda yang mendalami bidang kejurnalistikan yang bermukim di suatu perguruan tinggi. Mereka dipandang sebagai kaum inteklektual yang membawa perubahan secara progresif terhadap kondisi sosial. Kaum intelektual ini awalnya tergabung dalam organisasi Perhimpunan Indonesia (PI) tahun 1942 menyerukan persatuan dengan dasar nasionalisme untuk mengusir cengkraman kolonialisme di Indonesia.
Tuntutan pemuda waktu itu dimuat dalam terbitannya yaitu majalah Hindia Poetra. Pemuda bergerak secara dinamis mulai dari kritiknya terhadap Volksraad (parlemen yang dibuat Hindia Belanda) agar sepenuhnya diubah menjadi parlemen rakyat. Misalnya kritik terhadap sewa tanah industri gula di Hindia Belanda yang menindas kaum tani. Hingga tuntutan berubahnya Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka yang membedah secara detil konsepsi persiapan kemerdekaan. Indonesia Merdeka juga termasuk salah satu media yang pertama kali menyeru agar semua wilayah bekas jajahan Hindia Belanda bersatu membentuk NKRI.
            Perjuangan mahasiswa pada zaman penjajahan Belanda jauh berbeda dengan saat ini. Saat ini mahasiswa bergerak didalam kampus dengan kondisi sosial yang berbeda pula. Pemerintahan kampus sebagai miniatur negara didalamnya terdapat lembaga yang mempunyai fungsi eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Continue reading →
Sabtu, 31 Maret 2012

Terpaksa, Ketimbang Nganggur

0 komentar
Oleh Fitri Nurhayati

Gelar sarjana diletakkan pada posisi yang edukasional. Dewasa ini sering ditemui lulusan sarjana yang bekerja tidak sesuai dengan bidangnya saat duduk di bangku kuliah. Pilihan ini di ambil ketimbang lulusan sarjana harus menyandang status pengangguran karena tidak tersedia lapangan pekerjaan dengan dalih sambil menunggu panggilan kerja.

Dalam perjalanan menempuh karir, seseorang akan berkeyakinan bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah untuk mencapai cita-citanya. Perkuliahan menjadi momentum tersendiri dalam mendalami keahlian yang mereka inginkan. Jurusan dalam perkuliahan tentu menjadi pertimbangan nantinya dalam menghadapi masyarakat seutuhnya. Setelah selesai kuliahpun output yang diharapkan mampu memenuhi pangsa pasar di masyarakat. Yang menjadi ironis adalah ketersediaan lapangan pekerjaan tidak sesuai dengan kuantitas para pencari kerja terutama lulusan sarjana. Hal itu yang menjadikan mereka bekerja tidak sesuai dengan jurusannya pada saat menempuh jenjang perkuliahan. Walau kecil akibat yang akan ditimbulkan jika bekerja tidak sesuai dengan bidangnya. Namun masyarakat tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan jika menyaksikan kondisi tersebut. Perjalanan karir akan menjadi sejarah panjang dan mengagumkan bagi seseorang terutama bagi lulusan muda yang bekerja apa adanya meskipun tidak sesuai dengan bidangnya. Fenomena demikian dilakukan dengan terpaksa untuk merobohkan kebijakan penguasa yang sekendak hati menyebarluaskan pengangguran di masyarakat.
Continue reading →

Kaum Komunal Intelektual

1 komentar
Mahasiswa adalah kelompok intelektual yang berada pada posisi edukasional sehingga mampu membawa perubahan progresif dalam masyarakat. Sebagai agent of change, yang menggelitik pemikiran kita adalah perubahan apa yang akan di lakukan, bagaimana caranya, dengan siapa, dimana dan kapan perubahan itu akan dilakukan, entah sampai kapan limitnya. Kampus ibarat medan kecil bagi mahasiswa untuk melakukan perang pemikiran, perang idiologi bahkan sampai perang fisik. Sejarah telah mencatat, gerakan mahasiswa dimulai tahun 1908. Sepak terjang mahasiswa telah terbukti mampu menggoyahkan kelompok yang secara arogan membuat kebijakan-kebijakan elit.
                Mahasiswa adalah pemuda, dimana daya kritis dan ideologis menguasai jalan pikirannya. Mudah meledak, ibarat granat bila sedikit saja tersentuh. Dan mudah melunak ketika melihat realitas yang jauh dari idealisnya. Kebebasan yang ada pada dirinya terkadang membuat jalan pemikirannya terpancing emosi dengan serta merta. Rasa tanggung jawab seharusnya berjalan beriringan dalam menggiring perubahan. Sehingga kebebasan tersebut bermakna kebebasan yang bertanggung jawab. 
Continue reading →
Kamis, 29 Maret 2012

WHEN I WANT TO SAY I LOVE YOU

0 komentar
What do I like from you?
Your beauty?
But true beauty belongs to
Allah The Great Beauty

Your smile?
But smile is a proof of much bliss from
Allah The Great Giver

Your kindness?
But true kindness comes from
Allah The Almighty
Continue reading →

UNREQUITED LOVE

0 komentar
When I know all about her
I’m being in love
But she doesn’t feel the same way about me

I can’t say about my feeling
What will I do?
Keep silent or I should speak

I have to choose the best way
I’m embarrassed
I pretend to dislike
Continue reading →

Tuhan Marah

0 komentar
Pipit, 19 Juli 2006

Marahkah Kau pada kami,
Inikah akhir dunia kami
Kau hempaskan jariMu di ujung banda
Tercenganglah seluruh dunia

Engkau Yang Perkasa pemilik semesta
Biarlah kami songsong matahari
Untuk membuka lembaran yang hakiki
Continue reading →

Labels