ALT_IMG

Lomba Karya Jurnalistik Se BARLINGMASCAKEB

LPM BHASKARA Universitas Muhammadiyah Purwokerto mengadakan Lomba Karya jurnalistik Untuk Pelajar Se Barlingmascakeb dengan tema Buramnya Pendidikan Di Negriku.Download Formulir dan Ketentuan Lomba.

ALT_IMG

Adat Istiadat Perlu Berjalan Berdampingan Dengn Aqidah Islam

Awan mendung menyelimuti langit Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), rintik hujan mulai membasahi gedung-gedung mewah kampus biru. Pada saat yang bersamaan, tampak mahasiswa lalu lalang menuju lantai tiga di gedung PKM yang belum genap dua tahun dibangun itu.Selengkapnya..

Alt img

Pengelolaan Hotspot Belum Maksimal

Hotspot yang akhir-akhir ini menjadi popular, karena kemudahan dan keefektifannya membuat hotspot digemari para pecinta dunia maya. Universitas Muhammadiyah Purwekerto (UMP) merupakan salah satu yang menggunakan teknologi hotspot.Selengkapnya...

ALT_IMG

Buruknya Konsolidasi, Kesebelasan BEM Mundur

Belum genap satu periode kepengurusan, para pentolan Lembaga Tinggi sudah mulai meninggalkan kursi jabatannya. Terbukti dengan mundurnya 11 pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) periode 2012/2013 yang digadang-gadang sebagai ujung tombak penampung aspirasi mahasiswa. Selengkapnya...

ALT_IMG

Pemimpin Oh Pemimpin

Dengan air mata ini... Ku berharap kepadamu... Pemimpin... Selengkapnya...

Selasa, 29 Januari 2013

Pengelolaan Hotspot Belum Maksimal

3 komentar

Seorang mahasiswi yang gagal mengakses internet di UMP
Hotspot yang akhir-akhir ini menjadi popular, karena kemudahan dan keefektifannya membuat hotspot digemari para pecinta dunia maya. Universitas Muhammadiyah Purwekerto (UMP) merupakan salah satu yang menggunakan teknologi hotspot. Untuk dinikmati segenap civitas akademika, UMP sudah mulai menggunakan hotspot dari tahun 2007 yang diharapkan bisa menunjang dan mempermudah  kegiatan pembelajaran dan administrasi civitas akademika. Tetapi akan sangat berbeda dengan kenyataanya, karena masih  banyak mahasiswa yang mengeluh koneksi hotspot di UMP.
Seperti yang dirasakan Luki Dwi Paramitasari Mahasiswa pendidikan bahasa Inggris semester lima. Luki yang juga aktif di radio Gradiosta mengaku kalau untuk mencari informasi terpaksa harus menggunakan handphone (HP) karena hotspot yang jarang connect. “Padahal saya harus memberikan berita-berita terbaru kepada pendengar”, ujarnya.
Begitu juga dengan apa yang dirasakan Teater Perisai. Hotspot yang mati sejak Oktober mengurungkan mereka untuk mempublikasikan kegiatannya. Misalnya saja hasil pentas seni drama pelajar, parade studi pentas dan workshop cinematograpfi yang kesemuanya itu hasilnya akan upload ke website dan facebook. “Karena hotspot UKM mati  akhirnya ada yang belum terunduh,” ujar ketua UKM Perisai Tri Suciadi menyesalkan.
Letak gedung UKM yang berdekatan dengan PTIK sebagai pengelola jaringan ternyata bukan jaminan cepatnya penanganan permasalahan koneksi di UKM. Hingga berita ini diturunkan, para pengurus UKM belum bisa mengakses hotspot. Lain halnya dengan HMPS Sejarah yang malah tidak kebagian jaringan.
Yusup anggota HMPS Sejarah mengatakan, tidak adanya jaringan hotspot sampai ke sekretariat hmps sejarah menjadikan anak- anak HMPS Sejarah memilih tempat lain yang dianggap mendapat jaringan hotspot yang memadai.
Tidak hanya itu, masalah lambatnya koneksi juga dirasakan beberapa mahasiswa. Hal ini membuat mahasiswa merasa dirugikan. “Ini tidak sebanding dengan apa yang sudah kita bayar . “ Ujar Sabrina Hylaby  dara cantik berdarah Arab Mahasiswi Fakultas Ekonomi semester akhir ini. “Keleletan hotspot juga menggangu proses pembelajaran.” Tambahnya.
Dari data terakhir Mahasiswa yang mendaftar  sebanyak 1446 . Masih banyak Mahasiswa yang belum memanfaatkan hotspot dengan maksimal. Dengan kapasitas 9Mbps berarti masing-masing Mahasiswa mendapatkan kapasitas sebanyak 6,2Kbps apabila semua Mahasiswa yang mendaftar pada saat yang sama aktif menggunakan Hotspot. Tapi keleletan hotspot masih dirasakan oleh mahasiswa. “Kalau menurut saya lelet itu tergantung tempat, ada tempat yang cepet ada yang lelet banget. Seperti di secretariat HMPS teknik itu lelet banget. Tapi kalau di gedung F ya cepet.” Ujar Rian Wisnu Wardhana Mahasiswi Program Studi (Prodi) Teknik Sipil semester satu ini.
Proses pendaftaranpun dinilai terlalu bertele-tele dan membuang waktu mahasiswa karena harus mendaftar setiap semester. Proses pendaftaran yang dinilai ribet ini menjadikan Mahasiswa enggan untuk mendaftarkan IDnya untuk menikmati fasilitas Hotspot. “Mau daftar jadi males, soalnya setiap semester harus daftar ulang.” ungkap Anisa, Mahasiswa Fakultas Ekonomi semester akhir ini.
Lain halnya dengan yang dikatakan Mahasiswi  Pendidikan Biologi semester lima Adfi Oktafia. “Kalau saya sih gak merasa ribet, mungkin memang untuk data,” ucapnya lembut. Mode pendaftaran persemester dilakukan PTIK untuk mendata Mahasiswa yang masih aktif ataupun yang sudah tidak lagi berproses di UMP, agar Hotspot hanya bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa UMP saja. Hal itu juga dilakukan untuk  meminimalisir adanya pembobolan bandwidth. Dan menjaga kekuatan Hardwere. Sedangkan menurut Catur ari Jatmiko dari prodi Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) semester tujuh mengatakan, “pemakain hotspot di UMP sangat tidak efesien dan penggunaanya pun sangat lelet serta ribet. Kita kan disini sudah membayar hotspotnya kenapa ketika mau menggunakanya susah dan ribet, karena  harus memakai password. Padahal di unversitas lain itu tidak perlu menggunakan password dan dapat langsung mengakses data secara cepat.” Ungkapnya bersungut-sungut.
Awal hotspot diadakan di UMP Mahasiswa hanya mendapatkan jatah  50 jam per semester yang sekarang menjadi 70 jam per semester dengan biaya 50.000 rupiah setiap Mahasiswanya per semester. Sedangkan Mahasiswa yang aktif memanfaatkan hotspot  hanya sekitar seperenamnnya saja. “Kalau semua mahasiswa sudah registrasi dan memakai sih saya maklum kalau internetnya lelet. Tapi kita tahu masih banyak mahasiswa yang belum registrasi atau tidak memanfaatkan hotspot dengan maksimal. Kenapa kok dari pihak PTIK tidak menggunakan jatah itu untuk meningkatkan signal  supaya lebih baik lagi.” Ungkap Tri Suciadi Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris semester sembilan ini. Dengan biaya 50.000 rupiah per semester yang artinya dalam satu semester dana yang masuk untuk hotspot sendiri senilai 450.000.000 rupiah, bukan nominal yang sedikit memang untuk mengadakan hotspot yang lebih baik.
Saat ditemui Bhaskara, Pihak Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) berdalih, keleletan hotspot hanya pada saat jam kerja saja dan keleletan dibawa dari pihak PT.TELKOM itu sendiri. “kalau TELKOM down ya kita ikut down.”   Ungkap Deni Lestiono selaku Divisi Software dan Jaringan.
Harga hotspot  yang murah juga mempengaruhi kecepatan dan kapasitas browsing. Yang pada saat berdiri hanya berkapasitas 10Mbps sekarang menjadi 25 Mbps dengan biaya langganan 85 juta perbulannya Mahasiswa hanya medapatkan jatah 9Mbps saja, itu juga harus berbagi dengan kampus II yang berada di Sokaraja. Dengan total Mahasiswa kurang lebih 9000 Mahasiswa yang berarti setiap Mahasiswa hanya mendapatkan jatah 1Kbps. Menurut Deni, “Saya pikir untuk sekarang ini masih cukup untuk kebutuhan Mahasiswa. Inikan sedang dalam uji coba, nanti kalaupun kurang baru kita tambah kapasitasnya.” Ujarnya mantap.
Ia menambahkan, Perangkat yang digunakan baik Hardware maupun software pengguna hotspot juga menjadi salah satu faktor sulitnya mendeteksi signal yang menyebabkan lambatnya koneksi. Sedangkan Untuk permasalahan jaringan di UKM mungkin mati karena tersambar petir. “Kalaupun ada masalah dengan hotspot, mahasiswa bisa mengajukan surat permohonan perbaikan ke pihak kita. Karena kita tidak menyediakan alat, kalau ada permasalahan kan ada prosesnya. Kalau ada surat baru bisa diproses ke Badan Administrasi Umum (BAU) untuk pengadaan alat baru bisa diperbaiki. ” Ujar Deni. Tapi sampai saat ini pihak UKM belum menyampaikan surat permohonan perbaikan kepada pihak PTIK. Hanya penyampaian keluhan secara lisan.
Sedangkan menurut Dekan Fakultas Teknik Anwar Ma’ruf,S.T, M.T, Acess point yang berfungsi sebagai penguat sinyal belum menyebar rata karena letaknya yang berjauhan. Hal inilah yang menghambat penangkapan signal hotspot.
Universitas Muhammadiyan Purwokerto yang mempunyai slogan yang salah satunya “Modern” patut untuk dipertanyakan. Hotspot yang belum diadakan secara maksimal oleh UMP menjari PR pihak UMP sendiri. Pengadaan Hotspot juga masih dipertanyakan karena Pengisian KRS di UMP masih di lakukan secara manual.
Pihak PTIK maupun UMP diharapkan untuk meningkatkan pelayanan karena dirasa masih setengah-setengah dalam mengadakan fasilitas Hotspot sendiri. Kurangnya komunikasi pihak kampus maupun mahasiswa menjadikan pengadaan fasilitas belum maksimal. Agar hak yang harusnya diterima oleh mahasiswa diberikan seutuhnya. (Tiwi, Prisma, Vida, Sri_Bhas )
Continue reading →
Jumat, 25 Januari 2013

Sistem Kepartaian Rentan Konflik Horizontal

0 komentar

 

Keluarga Mahasiswa Universitas Muhamaddiyah Purwokerto (KM UMP) yang sejak berdiri pada 20 JUNI 1998 menganut sistem kelembagaan kini memetamorfosakan dirinya menyerupai sistem yang ada di Indonesia, yaitu menggunakan sistem kepartaian.

KM UMP di nilai perlu perubahan untuk menciptakan KM yang lebih baik lagi sehingga perlu mencoba sistem kepartaian ini. Sistem Kepartaian mahasiswa adalah sistem dimana pencalonan – pencalonan mahasiwa ke lembaga tinggi kampus melalui partai dan tidak lagi melalui lembaga – lembaga di tingkat fakultas atau prodi seperti yang di lakukan sekarang ini. “Dengan pergantian ke sistem kepartaian ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran mahasiswa menghadapi sistem pemerintahan Indonesia nanti”, ujar Najun Mahasiswa Fakultas Agama Islam. Dosen Pkn ,Banani juga mengemukakan pendapat yang sama. Beliau mengatakan, “bagus jika KM UMP ingin menggunakan sistem kepartaian, atmosfer politiknya menjadi ramai nantinya”. Sistem ini di nilai dapat menjadi pembelajaran bagi mahasiswa untuk kepemerintahan yang sebenarnya di Indonesia.” Kampus itu kan miniatur negara, dengan adanya Sistem kepartaian ini nantinya mahasiswa dapat berlatih sistem demokrasi yang ada di Indonesia, tambah banani

Sistem kelembagaan yang dari dahulu di anut oleh KM UMP di rasa masih banyak kekurangan. Banani juga menjelaskan, “ Jika menggunakan sistem kelembagaan, dalam pemilihan presiden mahasiswa tentu pemenangnya yang anggota lembaganya banyak, yang seperti itu tentu saja kurang demokratis, sehingga perlu di gunakan alternatif lain demi menwujudkkan pemilihan yang demokratis.

Sistem kepartaian mahasiswa yang sudah di wacanakan sejak Kongres Mahasiswa (KOSMA) ke 11 (6/2011) mulai di persiapkan oleh Dema UMP. ” sistem kepartaian ini adalah amanat yang di berikan dari kosma kepada Dema, jadi kami harus melaksanakan amanat tersebut”, kata Najun selaku Ketua Dema UMP. Serangkaian persiapan sudah dilaksanakan termasuk studi banding ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) hingga membentuk tim khusus guna menggodog peraturan – peraturan yang di terapkan dalam pelaksanaan sistem kepartaian nanti. “ Dema telah berusaha semaksimal mungkin dalam mempersiapkan sistem kepartaian ini, kami juga membentuk tim khusus yang terdiri dari Dema Fakultas, BEM Fakultas, Dema Universitas dan Mantan Lembaga tinggi UMP” tambah najun.



KM UMP dinilai siap melaksanakan sistem tersebut pasalnya mulai dari Lembaga tinggi tingkat Fakultas dan Universitas serta mantan anggota lembaga tinggi UMP mendukung penggantian dari sistem kelembagaan menjadi sistem kepartaian.

Namun hal tersebut di bantah beberapa mahasiswa yang ada di tingkat lembaga Fakultas. Mereka menilai KM belum siap melaksanakan sistem tersebut karna dinilai keadaan KM yang masih prematur. Ketua BEM Teknik nenegaskan “masih banyak mahasiswa yang lebih mementingkan kuliahnya dari pada politik dalam kampus”. Ini dapat terlihat masih sedikit mahasiswa yang perduli dengan politik di dalam kampus. Termasuk mahasiswa yang mengikuti lembaga maupun mahasiswa cair. Mereka tidak tahu apa itu sistem kepartaian bahkan mereka juga tidak tahu sistem seperti apa yang di gunakan di dalam KM UMP sekarang ini. Tidak sedikit juga yang mengetahui apa itu KM UMP.

Apabila melihat kondisi KM sekarang terdapat kesenjangan interaksi kekeluargaan. Ini juga merupakan salah satu faktor ketidaksiapan KM UMP melaksanakan sistem kepartaian tersebut. Ketua HMPS PGSD, Rifki Maulana mengatakan, “dibandingkan kondisi KM UMP sekarang kurang erat rasa kekeluargaannya dibandingkan saat kepemimpinan dua tahun lalu, namun untuk kegiatan mahasiswa sekarang lebih hidup dan lebih sigap menyelesaikan masalah mahasiswa”. Kondisi KM UMP pun di nilai masih prematur, dalam arti SDM yang siap dan mampu melaksanakan sistem kepartaian ini masih sangat minim. Mengingat kondisi KM UMP yang seperti ini, jika sistem kepartaian tetap di laksanakan maka akan terjadi kekacauan di dalam kampus. Dangan penyelenggaraannya yang seenaknya. Rifki menambahkan, “ jikapun sistem kepartaian ini benar – benar di laksanakan akan semakin meranggangkan kekeluargaan dalam KM UMP, dengan persaingan antar partai yang bisa jadi tidak mendahulukan kepentingan KM UMP sendiri. Sebaiknya tetap menggunakan sistem kelembagaan namun di perbaiki dan lebih di tata. Apapun sistem yang digunakan sebenarnya tidak menjadi masalah asalkan sistem yang dipakai dapat mempererat hubungan KM dan memajukan UMP”

Sungguh ironi bahwa KM akan mengubah sistem kelembagaan menjadi sistem kepartaian sedangkan masih banyak mahasiswa yang belum tau apa itu KM padahal mereka adalah bagian dari KM. Ditambah lagi tentang sistem kepartaian belum banyak dipahami oleh mayoritas mahasiswa. Dari banyaknya mahasiswa yang tidak mengetahui sistem ini, seharusnya ada sosialisasi yang lebih dari awal. Keterlambatan sosialisasi menjadi kunci utama dalam ketidaksiapan KM UMP. Seharusnya KM UMP lebih dahulu mensosialisasikan ke seluruh mahasiswa, seperti sistem yang telah di laksanakan di dalam KM UMP dan seperti apa sistem baru yang akan di gunakan nanti.(Zacki, Wiji, Okti)

.

Continue reading →
Kamis, 20 September 2012

A.N.Y

0 komentar
A.N.Y
Dia sosok mungil yang belum mengerti.
Kemana dia harus melangkah, kemana dia akan mengarah.
Dia sosok motivator muda, terbaik di dunia maya.
Dia sosok tegar yang membekukan tiap tetesan.
Tetesan bukan sebuah kesedihan.
Karna dia...
Orang yang dulu ku cinta.

Purwokerto,20 September 2012
Continue reading →

Kumpulan Puisi Efry

0 komentar
Lembayung

Dipelataran hati yang paling samudra
Ombak bertabur memandikan karang
Yang ingin menghapus sengatan bulu babi
Hari ini lembayung mulai berganti
Dan sisa jejak menjadi sejarah
Pada setapak yang ku amini

Purwokerto, 2012

Anggur 

sampai batas senja
diam diam aku menuang anggur
yang berdenting sunyi
untuk merayakan pertemuan kau aku
yang berakhir padam

Purwokerto, 2012

Merpati yang Tak Mau Pulang

sampai fajar tiba merpati itu tak juga pulang
padahal dingin yang merupa pisau
terus menusuk setiap pori pori
dan merayakan gerimis
pada rindu yang begitu batu

Purwokerto, 2012

Tentang Sebuah Sejarah

tiuapan angin menyapa telinga
mata berkedip letih di hamparan malam,
di antara batu yang meditasikan sunyi
malam masih panjang
cahaya lampau telah lunak
untuk menembus lorong keadaan
tapi jelaga asap rokok
masih setia mengingatkan
pada tarian sejarah

Purwokerto, 2012

Biodata :
Hendrik Efriyadi, lahir di desa Mandiraja Wetan, Madiraja, Banjarnegara, 1 februari 1994. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa di UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO. Aktif menjadi anggota Komunitas Penyair Institut (KPI), Alamat rumah: Mandiraja Wetan Rt. 4 Rw.3 Mandiraja, Banjarnegara 54373.
Continue reading →
Senin, 17 September 2012

Senja , Kamu , Rindu

0 komentar
Elinthia, Pengirim Puisi
merangkai alfabet, ilustrasi kalimat, menulis dengan hati,
percaya padaku! ini hanya untuk kamu!
 
tak pernah terpikir untuk menyingkirkan
karena bukan berarti hilang ,
membuang bukan berarti tak sanggup untuk daur .
pikirlah . untuk kembali memeluk ku , senja ..
 
cipta rasa nyata dalam senja yang membisu dalam rindu adalah
dekapan hangat tanpa komando ..
 
mungkin dan pasti, tidak berteman dan tidak sendiri..
bicara di kekinian tentang seluruh arti rindu, jangan henti dulu..
.............................................. peluk!


Elinthia Ratih Kartika 

Pembaca setia tulisan-tulisan terbitan LPM Bhaskara
Mahasiswa Prodi PKn, Universitas Muhammadiyah Purwokerto angkatan 2010 
Continue reading →
Kamis, 30 Agustus 2012

Mahasiswa Tergilas Akibat Kebijakan Kampus

0 komentar

Spanduk pengumuman yang berisi kebijakan baru untuk membayar uang registrasi semester ganjil tahun ajaran 2012/2013
BHASKARA- Sekumpulan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) duduk bergerombol dengan menampakkan wajah cemas.  Hal ini diakibatkan karena kekhawatiran mereka terhadap kebijakan khusus yang dikeluarkan oleh pimpinan universitas.
Kebijakan baru ini berisi tentang aturan pembayaran registrasi semester ganjil tahun ajaran 2012-2013.
Seperti yang terpampang pada spanduk disekitar bundaran UMP yang menyatakan bahwa waktu registrasi diperpanjang sampai tanggal 8 September mendatang dari yang sebelumnya hanya diagendakan sampai tanggal 31 Agustus.
Meski demikian kampus akan tetap melayani pembayaran registrasi sampai tanggal 29 September mendatang. Namum kebijakan itu dibarengi dengan penambahan biaya menjadi Rp 500 ribu. Rincian penambahan rupiah ini dimasukkan dalam biaya registrasi dari sebelumnya Rp 350 ribu tiap semester. 
Kebijakan ini tentu memicu banyak pertanyaan bagi mahasiswa. Karena nominal biaya registrasi yang sebelumnya sudah dirasa memberatkan terlebih apabila nominalnya ditambah akibat keterlambatan.
Continue reading →
Kamis, 28 Juni 2012

Diskusi Publik Bukan Hanya Untuk Lembaga

0 komentar
RANGKAIAN Kongres Mahasiswa(KOSMA) XI Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) belum berakhir sebelum dilantiknya Presiden Mahasiswa (Presma) dan Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) periode 2012/2013.
Tepat hari ini, Kamis (28/6) dilaksanakan Pemilihan Umum Raya (Pemira) sebagai helatan akbar menjelang berakhirnya KOSMA XI.
Agenda Pemilu dipersiapkan j...auh-jauh hari oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Dewan Mahasiswa (DEMA). Namun masih ada saja permasalahan klasik kerap ditemui.
Seperti tahun-tahun sebelumnya rangkaian pemilu tak mendapat respon hangat dari sebagian besar mahasiswa.
Novianda Tiara, Ketua DEMA 2012/2013 bahwa pihaknya menyayangkan kurang adanya respon dari mahasiswa dalam menentukan calon pemimpin mereka.
Terbukti dalam agenda diskusi publik yang digelar di kantin UMP, Rabu (27/6) kemarin tak lebih dari satu persen mahasiswa yang menghadiri.
"Jangankan diskusi publik, KOSMA saja mereka tidak mau berangkat“ kata Novianda.
Adanya diskusi publik bertujuan untuk mensosialisasikan visi misi Capres dan Cawapres. Melalui forum ini pula mahasiswa dapat mengetahui kapabilitas calon pemimpinnya.
Namun yang disayangkan banyak dari mereka yang mengetahui bahwa rangkaian agenda KOSMA merupakan forum yang dikhususkan bagi lembaga. Mahasiswa tak memahami bahwa ini merupakan forum diskusi untuk mahasiswa UMP tanpa kecuali.
Polemik yang terjadi dihampir setiap generasi ini tak sepenuhnya disebabkan karena ketidaktahuan mahasiswa. Karena kebanyakan dari mereka tidak mendapat informasi terkait rangkaian agenda KOSMA. Termasuk di dalamnya penyelenggaraan diskusi publik, sehingga menyebabkan forum diskusi sebagian besar hanya dihadiri mahasiswa lembaga.
Begitu juga dengan KPU sebagai penyelenggara dinilai masih kurang gencar dalam melakukan sosialisasi. Terbukti masih banyak mahasiswa yang tidak mengetahui kapan dan dimana forum ini berlangsung.
"Wah ngga tahu diskusi publik ada dimana," kata Tia N. Istianah, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris semester empat.
Begitu juga dengan Asti, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester dua mengatakan, bahwa ia tidak mengetahui waktu pelaksanaan diskusi publik.
Informasi rangkaian agenda pemilu raya seharusnya disampaikan secara intensif sehingga helatan akbar ini menjadi media efektif untuk menentukan Presma dan Wapresma. (Bhas_Dina)
Continue reading →

Labels